REALTIME NEWS: Tak Dapat Uang Saku dari Pemkab Bantul, Atlet Difabel Kecewa
Sebanyak 23 atlet ini berharap ada perhatian dari Pemkab setempat berupa uang saku dan alat olahraga selama mereka bertanding untuk nama Bantul.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan atlet difabel yang akan bertanding di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV di Bandung menyatakan kecewa dengan sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul yang tidak menganggarkan uang saku untuk mereka.
Padahal, sebanyak 23 atlet ini berharap ada perhatian dari Pemkab setempat berupa uang saku dan alat olahraga selama mereka bertanding untuk mengharumkan nama Bantul.
Ketua Komite Paralimpik Nasional (NPC) Kabupaten Bantul, Sihmanto menjelaskan, pihaknya mengaku cukup kecewa dengan sikap Pemkab yang sama sekali tidak menganggarkan untuk kegiatan para atlet difabel ini.
Meskipun, sebelum-sebelumnya, para atlet difabel ini telah mengajukan proposal anggaran untuk kegiatan keberangkatan ke Peparnas tahun 2016 ini.
“Hasil pertemuan kami dengan Pemkab sama sekali tidak membuahkan hasil. Pemkab memang tidak menganggarkan untuk NPC di tahun ini maupun tahun 2015 lalu,” ujar Sihmanto usai berpamitan dengan Pemkab Bantul di Pendopo Parasamnya, Kamis (29/9/2016) sore ini.
Anggaran dari Pemkab itu memang cukup diperlukan untuk keberangkatan menuju Bandung, Jawa Barat. Pasalnya, selama ini, sedikitnya 23 atlet dan tujuh official hanya mendapat anggaran dari Pemprov DIY.
“Jadi kami datang selain berpamitan, juga berharap Pemkab Bantul sebagai daerah 23 atlet kami ini bisa memberikan dukungan untuk kami bertanding. Namun, kami tidak mendapat apa-apa, kami merasa dianak tirikan dengan olahraga lainnya,” kata Sihmanto.
Dalam waktu yang mepet karena para atlet difabel ini akan berangkat ke Bandung tanggal 12 Oktober mendatang, Sihmanto pun mengaku cukup kesulitan untuk mencari uang saku. Untuk mencari sponsor dalam kondisi waktu yang mepet pun juga tidak memungkinkan.
Selama ini, karena tidak adanya anggaran dari Pemkab setempat, para atlet dari Bantul ini berlatih dengan uang hasil patungan. Uang tersebut dipergunakan untuk menyewa lapangan, peralatan dan juga untuk keperluan lain.
“Kami memang terbiasa menggunakan biaya sendiri karena memang tidak ada pendanaan dari Pemkab,” kata Sihmanto.
Yulianto, Sekretaris NPC Bantul mengatakan, pihaknya sudah beraudiensi dengan Bupati Bantul sejak tahun 2015 hingga 2016.
Saat itu, Bupati Bantul masih dijabat oleh Sri Suryawidati akan menganggarkan di anggaran perubahan tahun 2015. Namun, anggaran itu tidak ada dan kala itu akan dianggarkan ke APBD tahun 2016.
“Hingga saat ini ternyata anggaran untuk NPC tetap tidak ada. Kami juga sempat beraudiensi dengan bupati baru (Suharsono) untuk persoalan ini. Katanya, mau dianggarkan ke APBD Perubahan tahun 2016, namun juga belum ada. Padahal kami terus memberikan proposal,” ulas Yulianto.
Bahkan, dia mengaku kaget saat proposal dari NPC itu tidak sampai di tangan DPPKAD. Padahal, mereka sudah menyodorkan proposal melalui Kantor Pemuda dan Olahraga.
Pihaknya berharap pemerintah bisa tetap memperhatikan ajang olahraga para penyandang disabilitas.
“Kami merasa dipandang sebelah mata, padahal kami juga menargetkan 4 medali emas dari cabang atletik dan 3 emas dari cabang tenis,” ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/atlet-difabel-yang-tergabung-dalam-npc-bantul_20160929_181638.jpg)