Pemkab Sleman Akan Kembangkan Sister School untuk Mitigasi Bencana
Dengan begitu, proses belajar mengajar siswa dari wilayah terdampak bencana tetap bisa berjalan.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Kabupaten Sleman menggagas pengembangan sister school atau sekolah penyangga sebagai bagian dari langkah mitigasi bencana.
Dengan begitu, proses belajar mengajar siswa dari wilayah terdampak bencana tetap bisa berjalan.
Asisten Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Bidang Pemerintahan, Jazim Sumirat, mengatakan dalam program ini, sekolah terdampak dipersaudarakan dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah relatif aman melalui pembuatan nota kesepahaman.
Sehingga, saat terjadi kondisi darurat di mana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.
"Langkah mitigasi bencana yang dilakukan Pemkab Sleman tidak hanya untuk meminimalisir jumlah korban. Melainkan juga memastikan proses belajar mengajar tidak terhambat akibat terjadinya bencana," kata Jazim di sela sosialisasi penerapan sister school di Hotel Prima Sleman, Selasa (27/9/2016).
Disebutnya, langkah mitigasi bencana berbasis masyarakat, termasuk program sister school, sangat penting dilakukan. Mengingat, Sleman merupakan satu dari 136 kota di Indonesia yang memiliki indeks resiko bencana tinggi.
Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat dimana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar maka untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan belajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.
Adapun kegiatan sosialisasi tersebut menjadi langkah awal menyiapkan kesiapsiagaan komponen sekolah dalam menghadapi kemungkinan kondisi kedaruratan.
"Jika berbekal pengetahuan yang memadai dalam menghadapi bencana, masyarakat bisa bertindak tepat dan efisien," kata dia.
Kepala Pelaksana Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Kunto Riyadi mengatakan, sosialisasi penerapan Sister School akan dilanjutkan dengan fasilitasi sosialisasi di 4 sekolah sebagai sasaran program.
Yakni, SD Tarakanita Ngembesan Turi dengan sekolah persaudaraannya SMP Alosius Turi, serta SD Pandanpuro II dengan sekolah persaudaraannya SD Muh Pakem.
Selanjutnya juga akan diteruskan dengan gladi lapang di 4 sekolah sasaran. Adapun sampai saat ini di Sleman telah terbentuk 20 sister school dan 8 sekolah siaga bencana.
"Kegiatan ini dilakukan agar sekolah yang masuk dalam Kawasan Risiko Bencana (KRB) III bila suatu saat terjadi bencana tidak terganggu dalam belajar mengajarnya serta sekolah sasaran siap menerima siswa yang terkena dampak erupsi Merapi," katanya. (*)