Raih Juara 1, Remaja Ini Ingin Tetap Lestarikan Gerobak Sapi

Remaja asal Sulang Kidul, Patalan, Jetis, Bantul yang tergabung dalam komunitas gerobak sapi Guyub Rukun Bantul tersebut sudah menyiapkan tema khusus.

Raih Juara 1, Remaja Ini Ingin Tetap Lestarikan Gerobak Sapi
tribunjogja/arfiansyah panji
Dengan tema klasik, Adib berhasil juara 1 dalam kategori Modifikasi Gerobak Sapi pada Festival Wisata Gerobak Sapi 2016 yang diadakan Bajingers Comunity dan Dinas Pariwisata DIY di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (25/9/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Raut sumringah terpancar dari wajah Adib Al Husein. Gerobak Sapi pelajar kelas 3 Man Wonokromo tersebut berhasil meraih juara 1 dalam kategori Modifikasi Gerobak Sapi pada Festival Wisata Gerobak Sapi 2016 yang diadakan Bajingers Comunity dan Dinas Pariwisata DIY di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (25/9/2016).

Tidak hanya satu piala juara tersebut, Adib juga mendapatkan piala kenang-kenangan dari GKR Hemas.

Adib mengaku, bahwa sebagai juara bertahan tahun lalu, ia dan ayahnya yaitu Isdiyana sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti festival tahun ini.

Remaja asal Sulang Kidul, Patalan, Jetis, Bantul yang tergabung dalam komunitas gerobak sapi Guyub Rukun Bantul tersebut sudah menyiapkan tema khusus untuk festival kali ini. Tema klasik yang berarti kembali ke masa lampau dipilih Adib beserta keluarga.

"Tema klasik, seperti zaman dulu. Ketika orang menggarap sawah, sehingga di gerobak ada alat-alat pertanian dan hasil tani. Selain itu ada juga sego wiwitan," jelasnya.

Dalam memodifikasi gerobak sapinya, Adib menggunakan bahan-bahan yang menarik. Seluruh gerobak tersebut berwarna cokelat berkat lapisan rapak yaitu daun tebu yang di keringkan

. Bagian depan yang disebut balungan kayu utama dilapisi menggunakan kulit kayu kering dari Lampung.

Kesan klasik semakin diperkuat dengan roda yang dicat dengan warna senada dan dilapisi serbuk kayu. Selain itu, tirai gerobak sapi tersebut juga menggunakan kain sorjan, sehingga kesan klasik semakin kental.

Setelah proses modifikasi, gerobak kembali dilapisi pelitur supaya kayu terlihat mengkilat.

Dalam pengerjaannya Adib dibantu oleh kedua orangtuanya dan adiknya. Menurutnya, proses pengerjaan tersulit adalah menganyam rapak.

"Proses satu minggu karena menganyam itu lama. Harus teliti dan diikerjakan empat orang bapak ibu dan adik saya," tambahnya.

Sehari-hari gerobak sapi tersebut digunakan Adib untuk jalan-jalan sore. Meski hanya sekedar untuk jalan-jalan, Adib berharap gerobak sapi tetap lestari. Sehingga tidak akan punah termakan zaman.

Selain itu, ide untuk menjadikan gerobak sapi sebagai paket wisata dirasa tepat. (*)

Penulis: app
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved