Banyak Penambang Batu Liar Sisakan Masalah Limbah

Kegiatan penambangan yang dilakukan di Pegunungan Pendem, Gunung Kidul menyisakan persoalan limbah yang belum dikelola dengan baik.

Banyak Penambang Batu Liar Sisakan Masalah Limbah
Tribun Jogja/ Yoseph Hary W
Komisi III DPRD Kulonprogo melakukan tinjauan ke lokasi tambang pemecah batu di wilayah Clapar, Senin (6/62016). Aktivitas truk penambang pada pertambangan batu tersebut dikeluhkan warga Sendangsari karena merusak jalan desa. (ILUSTRASI) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kegiatan penambangan yang dilakukan di Pegunungan Pendem, Gunung Kidul menyisakan persoalan limbah yang belum dikelola dengan baik.

Kepala Bidang Pengawasan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY, Ruruh Haryata menjelaskan bahwa banyak dari para penambang yang tidak taat azas.

"Kegiatan penambangan di sana batu dipotong menggunakan gergaji, tapi perlu air agak lunak. Nah sisa limbahnya itu yang menimbulkan masalah. Mereka sebenarnya sudah membuat pipa untuk pengendapan tapi tidak dimanfaatkan dengan baik," terangnya saat dihubungi, Selasa (20/9/2016).

Namun, Ruruh belum bisa menyatakan limbah tersebut berpengaruh besar pada lingkungan, terutama pertanian di sana. Hal tersebut dikarenakan perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam dan pengamatan yang lebih lama.

"Saya ke sana ketika sidak. Itu hanya satu jam. Sekilas tidak ada yang bermasalah dengan lahan pertanian di sana. Tapi tidak tahu lagi kalau menyebabakan produktivitasnya menurun. Itu butuh penelitian lebih dalam," tandasnya.

Pihaknya masih akan melakukan pembicaraan internal untuk membahas kajian lingkungan di sana. Terkait anggaran, Ruruh mengatakan kemungkinan akan dimasukkan pada tahun 2017 mendatang.

Sementara itu, Kepala Satpol PP DIY, Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat menjelaskan bahwa hasil operasi gabungan yang dilakukan DIY dengan Sukoharjo, mengingat tempat tersebut berada di perbatasan, diketahui ada 46 pengusaha penambang batu di sana dan hanya 1 yang memiliki izin. "Lainnya liar," tandasnya.

Gusti Yudha, sapaan akrabnya mengimbuhkan bahwa para penambang tersebut ada yang berasal dari Sukoharjo dan juga di DIY.

"Dari Sukoharjo hanya 6, yang 40 penambang dari DIY," ungkapnya.

Beberapa penambang liar tersebut, lanjutnya, berkelit saat ditanya izin untuk melakukan aktivitas pertambangan di sana. Menurut mereka, mengurus perizinannya susah.

Halaman
12
Penulis: kur
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved