Yantra dan Pemerintah Desa Tegaltrito Resmikan Gerakan Bangga Aksara Jawa

Pamuji Raharjo, Koordinator Program Yantra Jogja menjelaskan program tersebut bertepatan dengan 50 Tahun Hari Aksara International.

Yantra dan Pemerintah Desa Tegaltrito Resmikan Gerakan Bangga Aksara Jawa
Tribun Jogja/Arfiansyah Panji Purnandaru
Susilo (paling kiri) Kepala Desa Tegaltirto menandatangani MoU Gerbang Raja (Gerakan Bangga Aksara Jawa) antara Yantra Jogja dengan Pemerintah Desa Tegaltirto, Berbah, Sleman (8/9/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dewasa ini aksara Jawa mulai kehilangan eksistensinya.

Jangankan aksara, menggunakan bahasa Jawa di kehidupan sehari-hari pun sudah enggan dilakukan sebagian masyarakat Jawa.

Mereka tampak lebih bangga dengan bahasa ibu dan berbagai istilah serapan asing lainnya. Bisa jadi, hal ini merupakan cerminan dari peribahasa wong Jawa ilang Jawane (orang jawa hilang jawanya).

Berdasarkan keperihatinan tersebut, Lembaga Cahaya Nusantara (Yantra) bersama Pemerintah Desa Tegaltirto, Berbah menyelenggarakan program "Gerbang Raja (Gerakan Bangga Aksara Jawa)" Tegaltirto, Kamis (8/8/2016).

Selain penandatanganan MoU "Gerbang Raja (Gerakan Bangga Aksara Jawa) Tegaltirto" antara Yantra Jogja dengan Pemerintah Desa Tegaltirto, ada pula pidato kebudayaan oleh sastrawan R. Toto Sugiharto, dan Kursus Gaul Beraksara Jawa oleh Joko Genk Cobra.

Rangkaian program kegiatan pembelajaran beraksara Jawa tersebut antara lain penggunaan aksara Jawa untuk identitas dan produk warga Tegaltirto, Serta penelaahan potensi Desa Tegaltirto sebagai pendukung "Berbah Minapolitan" dan program lain.

Pamuji Raharjo, Koordinator Program Yantra Jogja menjelaskan program tersebut bertepatan dengan 50 Tahun Hari Aksara International.

Dalam hal ini, Yantra prihatin dengan kemunduran tentang bahasa Jawa pada era modern saat ini.

"Acara ini diadakan untuk mengingatkan kembali pada generasi muda, bagaimana bahasa Jawa harus hidup di era dinamika anak muda hari ini. Boleh menjadi modern, tetapi kita harus ingat bahwa Jawa adalah bagian dari kehidupan kita," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: app
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved