Dominasi Kreasi Sarung dalam EthniCode
Terdiri dari dua kata, Ethnic dan Code, EthniCode berupaya untuk menerjemahkan kode-kode dalam kain-kain etnik Indonesia.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Setelah lima tahun tidak mengadakan show tunggal, kali ini desainer kawakan, Phillip Iswardono akan memperkenalkan rancangan terbarunya lewat tema EthniCode.
Terdiri dari dua kata, Ethnic dan Code, EthniCode berupaya untuk menerjemahkan kode-kode dalam kain-kain etnik Indonesia.
Dalam 94 outfit yang ditampilkan pada Jogja Fashion Week 2016, Jumat (26/8/2016), Phillip masih menjaga konsistensinya untuk terus mengeksplor kain-kain nusantara.
Kain Lurik yang selalu menjadi signature-nya, berpadu dengan Kain Tenun Troso Jepara, Tenun Goyor Sukoharjo, Tenun Tanimbar dan Batik Kelengan khas Yogyakarta.
"Kain Nusantara ini tidak ada habisnya untuk dieksplor. Terlebih, kini masyarakat Indonesia sudah sadar bahwa kain-kain ini sudah mengalami kemajuan dengan cantik, sudah berbeda dari era 1980-1990-an," ujar Phillip Iswardono.
Perancang menyeriusi Kain Lurik beberapa tahun terakhir ini mencoba untuk memberikan warna baru dalam berkreasi dengan gaya sarung.
Kreasi bawahan yang berbasis sarung pun mendominasi koleksinya tahun ini. Sarung dikreasikan agar lebih bervariasi, lebih edgy, modern dan muda.
"Jadi sekalipun basic-nya rok tapi itu adalah kreasi sarung," katanya. Tidak jarang, Phillip mengkombinasikan sarong ini dengan bahan brokat maupun furing. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/phillip-iswardono_20160828_122604.jpg)