Pemda DIY Akan Gunakan Teknologi Swedia di TPST Piyungan

Menengok 3 daerah itu menjadikan TPST Piyungan sebagai tempat pembuangan sampah akhir.

Penulis: mrf | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.com | DWI NOURMA HANDITO
Kondisi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) yang terletak di desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Rabu (30/12). TPST ini berdekatan dengan pemukiman penduduk yang terletak di Kecamatan Piyungan dan Pleret, penduduk mengeluhkan banyaknya lalat dan nyamuk dari TPST ini dalam beberapa waktu terakhir. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sistem pengelolaan sampah yang belum baik di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, diyakini membuat Bantul, Yogyakarta, dan Sleman kesulitan mendapat Adipura. Menengok 3 daerah itu menjadikan TPST Piyungan sebagai tempat pembuangan sampah akhir.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku akan memanfaatkan teknologi dari Swedia untuk pengelolaan sampah di TPST Piyungan. Sebab dari sisi kapasitas, sebenarnya TPST Piyungan ke depan sudah tak mampu lagi menerima tampungan sampah dari tiga daerah itu.

“Penerapan teknologi sedang kami jajaki. Sebenarnya ada dari Jerman dan Perancis, tapi harganya sangat mahal. Kami sekarang melirik yang dari Swedia,” ucap Sultan di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Selasa (2/7).

Dia menambahkan dengan menggunakan teknologi dari Swedia, nantinya sampah yang ada di TPST Piyungan tak hanya dijadikan pupuk kompos, melainkan juga untuk menghasilkan listrik. Selama ini, sampah yang menumpuk di TPST Piyungan hanya dibiarkan saja.

“Selama ini hanya ditimbun atau dikelola tertutup karena lahan sudah terbatas. Sampai sekarang, kami juga belum mendapatkan lokasi lain yang layak,” ujarnya.

Namun begitu, menurut Sultan, teknologi dari Swedia tersebut tak langsung dapat diaplikasikan dalam waktu dekat. Menengok di Yogyakarta, Sleman, maupun Bantul, masyarakat belum melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik yang disetor ke TPST Piyungan.

“Sampah plastik kan masih banyak yang campur di pembuangan akhir. Padahal sampah plastik membutuhkan penanganan tersendiri,” imbuhnya.

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengatakan, Yogyakarta memiliki kebijakan dan rencana aksi pengelolaan sampah yang sudah dijalankan, dan dinilai Kementerian Lingkungan Hidup melebihi standar yang ditetapkan. Kegagalan Yogyakarta tak mendapat Adipura, menurutnya berada di TPST Piyungan.

“Hambatan utama kami saat penilaian Adipura, ada di TPST Piyungan. Kami berharap segera ada solusi, apalagi pengelolaan sampah jadi nilai paling tinggi di Adipura,” kata Haryadi.

Seperti diketahui pada tahun ini, Yogyakarta, Sleman, dan Bantul kembali gagal meraih Adipura tingkat kencana, buana, maupun paripurna. Bantul pada tahun ini hanya mendapat sertifikat Adipura kategori kota kecil, sementara Yogyakarta mendapat plakat Adipura untuk terminal kategori kota sedang.

“Jika belum ada solusi, tiap tahun Adipura terancam lepas terus,” tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved