Iklan Sirup dan Mobil Pelat Merah

Kebijakan tersebut tentu didasari dari sebuah ikhtiar agar pejabat atau siapapun tidak menggunakan kendaraan dinas

Iklan Sirup dan Mobil Pelat Merah
ilustrasi 

SEPERTI halnya iklan sirup dan juga sarung, kebijakan terkait penggunaan mobil dinas untuk lebaran juga selalu menjadi tema hangat menjelang lebaran. Sadar atau tidak, setiap memasuki bulan Ramadan, iklan sirup dan juga sarung memang selalu muncul dengan intensitas yang bisa dibilang tinggi.

Meski mungkin konsumsi sirup meningkat di bulan Ramadan dan juga saat lebaran, kita bisa pastikan bahwa di hari biasa bukan berarti orang tidak lantas berhenti mengonsumsi sirup. Pun demikian juga sarung, meski tidak sedang puasa atau lebaran, sarung juga masih banyak digunakan atau dibeli.

Lalu bagaimana dengan pemanfaatan mobil dinas? Kita perlu kupas pelan-pelan tentang kebijakan pelarangan penggunaan mobil dinas untuk kepentingan pribadi yang dalam hal ini lebih khusus untuk mudik.

Kebijakan tersebut tentu didasari dari sebuah ikhtiar agar pejabat atau siapapun tidak menggunakan kendaraan dinas yang merupakan aset negara untuk kepentingan pribadi.

Dalam kebijakan ini tentunya memunculkan diskusi menarik, dimana kendaraan dinas bisa dibedakan setidaknya menjadi dua, yaitu kendaraan operasional atau kendaraan yang melekat pada jabatan.

Perbedaan paling mudah adalah, kendaraan yang melekat pada jabatan ini adalah kendaraan milik negara yang memang diberikan atau dipinjamkan untuk seseorang karena jabatannya. Contoh yang paling mudah, mobil yang melekat pada jabatan ini adalah, mobil kepada dinas, mobil bupati/walikota, Gubernur hingga mobil presiden.

Jika memang mobil dinas tersebut memang diberikan melekat pada jabatannya, tentu terkait pelarangan untuk digunakan saat lebaran masih perlu didiskusikan. Ada alasan yang juga kuat apabila hasil diskusi memutuskan jika mobil yang melekat pada jabatan ini tetap bisa digunakan.

Berbeda dengan mobil operasional. Untuk jenis ini, tentu ada garis tegas yang memang tidak seharusnya mobil pelat merah ini digunakan untuk kepentingan pribadi, dalam hal ini untuk mudik lebaran. Satu alasan mendasar adalah, mobil operasional tersebut memang disediakan untuk kegiatan operasional yang biasanya langsung berkaitan dengan layanan publik.
Contoh sederhana dari jenis ini adalah ambulance, mobil penanganan bencana dan juga mobil- mobil lain yang digunakan untuk operasional kedinasan. Tentu jika mobil ini digunakan untuk kepentingan pribadi, dan menjadi tidak ada saat akan digunakan untuk kedinasan, maka layanan terhadap publik akan terganggu.
Selain mengganggu layanan publik, penggunaan mobil dinas untuk kepentingan pribadi ini sebenarnya juga bisa digugat terkait biaya operasionalnya. Meski kadang ada alasan menggunakan BBM pribadi, namun nilai ekonomi mobil itu juga akan berkurang setiap kilometer penggunannya.
Jadi meski memakai BBM pribadi, maka sejatinya penggunaan mobil dinas untuk kepentingan pribadi ini juga merugikan negara.
Yang lebih penting untuk digugat terkait masalah ini adalah, apakah boleh dan tidaknya penggunaan mobil dinas untuk kepentingan pribadi ini hanya untuk mudik atau hanya saat lebaran? Apakah dengan membuat kebijakan saat lebaran ini kemudian bisa diartikan jika di luar waktu tersebut mobil dinas bisa digunakan untuk kepentingan pribadi?

Rasanya, kebijakan ini muncul lantaran memang disebabkan karena fenomena penggunaan aset negara untuk kepentingan negara ini sudah terjadi setiap harinya.

Seperti halnya iklan sirup dan sarung, meski hanya muncul setiap lebaran, namun bukan berarti di luar Ramadan dan Lebaran orang tidak memakai sarung atau minum sirup. (ibnu taufik jr)

Penulis: ufi
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved