Musim Tahun Ajaran Baru, Banyak Siswa Sleman Mutasi ke Kota Yogya

Umumnya, mutasi kependudukan itu terjadi untuk warga usia sekolah.

Musim Tahun Ajaran Baru, Banyak Siswa Sleman Mutasi ke Kota Yogya
Tribun Jogja/ Suluh Pamungkas
PPDB 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Mutasi kependudukan menjadi hal yang lumrah terjadi di Sleman selama masa penerimaan peserta didik baru (PPDB). Umumnya, mutasi kependudukan itu terjadi untuk warga usia sekolah.

Hal ini terjadi lantaran adanya sebagian siswa yang semula berdomisili di Sleman kini mendaftar sekolah lanjutan di wilayah lain. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Sleman mencatat perpindahan itu sudah terjadi sejak enam bulan sebelum memasuki masa PPDB maupun tahun ajaran baru. Biasanya, wilayah Kota Yogyakarta menjadi daerah tujuan utama mutasi kebanyakan pemohon.

"Ada kecenderungan warga pilih pindah penduduk supaya bisa daftar sekolah di kota. Makanya lalu terjadi mutasi kependudukan," kata Kepala Seksi (Kasie) Administrasi Kependudukan, Disdukcapil Sleman, Endang Mulatsih, Selasa (21/6/2016).

Pihaknya mencatat, selama periode Juli-Desember 2015, ada 3.839 perpindahan penduduk. Dari jumlah tersebut, usia 6-7 tahun (usia masuk sekolah dasar) ada 36 pengajuan perpindahan. Usia 12-13 tahun (usia masuk sekolah menengah pertama) ada 92 orang dan usia 15-16 tahun (usia masuk sekolah menengah atas) ada 66 orang. Sedangkan pada periode Januari-Mei 2016, ada 3.227 warga keluar Sleman. Usia 6-7 tahun ada 25 orang, usia 12-13 tahun terdapat 74 pengajuan dan usia 15-16 tahun ada 37 pengajuan.

"Persyaratan administrasinya lengkap, kami tidak bisa menghalangi. Kalau menolak, justru kami disalahkan," ujarnya.

Disebutkan Kepala Bidang (Kabid) Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Sleman, Sofwan Nugroho, keperluan pendaftar sekolah menjadi alasan yang jelas tersebut dalam pengajuan perpindahannya. Walau begitu, ada kebijakan sistem kuota yang diterapkan tiap daerah dalam penerimaan siswa dari luar wilayah. Hal ini untuk melindungi kesempatan warganya sendiri dalam memperoleh pendidikan.

"Seharusnya ada pengecekan lapangan, apa yang bersangkutan betul-betul warga sana atau hanya sebatas untuk data administrasi saja," kata dia.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman, Arif Haryono mengatakan, ketentuan kuota terbatas bagi warga luar yang hendak bersekolah di Sleman juga berlaku. Yakni, hanya 20 persen saja. Pihaknya tak tutup mata adanya mutasi tersebut yang menurutnya hal biasa mengingat masyarakat menginginkan anaknya masuk ke sekolah yang dipandang berkualitas baik.

"Masyarakat sekarang semakin kritis. Tapi kami pastikan jika kualitas sekolah di Sleman tidak kalah dengan daerah lain," ujarnya. (*)

Penulis: ing
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved