DPRD Bantul Akan Koordinasi dengan SKPD Terkait Limbah Sungai Bedog

Efek negatif berupa limbah harus benar-benar diperhatikan.

DPRD Bantul Akan Koordinasi dengan SKPD Terkait Limbah Sungai Bedog
TRibun Jogja/Agung Ismiyanto
TOLAK LIMBAH MADUKISMO: Warga di sekitar bantaran sungai Bedog menggelar aksi atas imbas dari limbah pabrik gula dan spiritus (PG PS) Madukismo, Minggu (5/6). Mereka mendesak pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat untuk segera menangani dan menyelesaikan persoalan pencemaran lingkungan ini. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Anggota DPRD Kabupaten Bantul pun angkat bicara mengenai pembuangan limbah ini. Mereka menganggap persoalan ini adalah problem besar yang harus dirembug bersama –sama oleh seluruh pemangku kebijakan.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Bantul Eko Sutrisno Aji menyampaikan, meski PGPS Madukismo menjadi satu-satunya pabrik gula di DIY dan mampu memproduksi gula di wilayah DIY serta Jawa Tengah.

Namun, efek negatif berupa limbah harus benar-benar diperhatikan.

“Dalam waktu dekat komisi C berencana berkoordinasi dengan sejumlah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait. Itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada limbah cair lain yang dialirkan ke Sungai Bedog selain dari pabrik Madukismo,” jelasnya.

Dia menyebutkan, limbah cair pabrik memang boleh dialirkan ke sungai. Hanya, limbah cair ini harus melalui serangkaian pengolahan. Itu bertujuan agar limbah cair tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.

“Apalagi, keberadaan Sungai Bedog tak hanya untuk menyuplai kebutuhan air lahan pertanian. Lebih dari itu, Sungai Bedog juga menjadi bagian pelestarian perikanan,” jelasnya.

Limbah cair dari sisa pengolahan pabrik gula dan spiritus (PGPS) Madukismo membuat warga di bantaran sungai Bedog khawatir akan pencemaran air ke sumur-sumur resapan milik warga. Mereka takut jika air limbah itu akan menurunkan kualitas air untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari mereka.

Pareng (50), warga Kasongan, Kasihan, Bantul mengatakan, limbah pabrik yang mereka sebut dengan blothong ini membuat warga menjadi sangat takut untuk beraktivitas di sungai. Padahal, sungai Bedog sebagai bagian dari kehidupan warga bantaran menjadi sarana untuk mencuci dan mandi.

“Semenjak blothong terus mengalir, kami jadi enggan mandi di sungai. Soalnya bikin gatal-gatal. Apalagi, untuk air minum,” paparnya, Selasa (7/6/2016).

Menurutnya, limbah cair ini hampir setiap tahun terjadi. Bahkan, dia menyebut, limbah ini sudah menjadi momok mengerikan yang menghantui warga bantaran sungai. Lebih jauh, air sebagai sarana vital dalam hidup warga juga rawan tercemar limbah cair ini.

Sejauh ini, Pareng mengandalkan air sumur untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun, kekhawatiran hinggap di hatinya setelah persoalan limbah ini tak kunjung selesai. Bahkan, belum ada langkah tegas dari pemerintah mengenai hal ini.

“Ya, memang saya khawatir jika sumur tercemar limbah. Maka, kalau bisa buang limbahnya dipindahkan jangan di sungai Bedog,” katanya. (*)

Penulis: ais
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved