Berwisata Sekaligus Belajar Sejarah ke Gedung Perundingan Linggarjati
Untuk memberikan gambaran bagaimana perundingan berlangsung terdapat diorama yang berada di pojokan ruang tengah.
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari
TRIBUNJOGJA.COM, KUNINGAN - Berada di kaki gunung Ceramai Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebuah bangunan bergaya kolonial tampak begitu asri dikeliling taman yang cukup luas.
Bangunan yang berada di area pedesaan dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan ini adalah saksi dari salah satu sejarah paling penting dalam perjalan bangsa Indonesia.
Di bangunan yang lokasinya di desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan ini adalah tempat berlangsungnya perundingan Linggarjati.
Perundingan yang berlangsung pada tanggal 10 hingga 13 November 1946 ini menghasilkan beberapa kesepakatan, yakni Belanda mengakui kekuasaan de-facto pemerintah Indonesia meliputi Jawa, Madura dan Sumatra.
Belanda harus meninggalkan wilayah de facto paling lambat 1 Januari 1949. Belanda dan Indonesia membentuk Negara serikat. Indonesia dan Belanda membentuk Uni-Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

Tribun Jogja/Hamim Thohari
Hasil perundingan tersebut ditandatangani pada tanggal 15 November 1946. Saat ini Gedung Perundingan Linggarjati ini menjadi salah satu obyek wisata andalan kabupaten Kuningan.
Setiap harinya tempat ini selalu ramai oleh pengunjung. Di dalam gedung bersejarah ini menyimpan beragam koleksi yang berkaitan dengan perundingan Linggarjati.
Di ruang tengah yang menjadi lokasi perundingan terdapat kursi dan meja yang digunakan saat perundingan.
Dikatakan salah satu penjaga Gedung Perundingan Linggar Jati Mihad, tempat tidur yang berada di sejumlah kamar pun adalah yang digunakan oleh para anggota delegasi dari kedua negara dan juga penengah perundingan bernama Lord Killearn yang berasal dari Inggris.
Foto-foto dan poster berkaitan dengan peristiwa perundingan ini menghiasi dinding bangunan. Untuk memberikan gambaran bagaimana perundingan berlangsung terdapat diorama yang berada di pojokan ruang tengah.

Tribun Jogja/Hamim Thohari
Gedung ini memiliki taman berukuran cukup luas. Sejumlah pohon berukuran besar tumbuh subur disana. Area taman yang sejuk sangat pas sebagai tempat bersantai para wisatawan.
Sejarah panjang mengiringi Gedung Perundingan Linggarjati. Pada tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem. Kemudian tahun 1921 seorang bangsa Belanda bernama Tersana merombaknya menjadi bangunan semi permanen.
Dan pada tahun 1930 pembangunan dilanjutkan menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Belanda bernama Van Os.

Tribun Jogja/Hamim Thohari
Selanjutnya gedung ini dijadikan hotel dan beberapa kali berganti nama. Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD. Kemudian pada 1942 saat masa penjajahan Jepang hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.
Dan tahun 1945 setelah kemerdekaan Indonesia, berganti nama lagi menjadi Hotel Merdeka. Untuk masuk ke komplek bagunann ini setiap pengunjung dikenakan tarif Rp.2 ribu. "Setiap harinya tempat ini buka dari jam 07.00 pagi hingga 17.00 sore," jelas Mihad. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/linggar-jati-3_20160520_154340.jpg)