8000 Pasien Banjiri Agenda Pengobatan Gratis di Pelataran Candi Borobudur

Agenda pengobatan gratis tersebut diikuti oleh kurang lebih 8000 pasien

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Azka Ramadhan
Pasien sedang mengantre pengambilan obat usai mengikuti pengobatan gratis, di Pelataran Candi Borobudur, pada Kamis (19/5/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Azka Ramadhan

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Tergabung dalam rangkaian acara menyambut hari raya Waisak, Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) melangsungkan kegiatan bakti sosial kemanusiaan, dengan menggelar pengobatan gratis, mulai Kamis (19/5/2016), di Pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang.

Ketua umum Walubi, Hartati Murdaya, menekankan betapa pentingnya budaya tolong-menolong di tengah masyarakat, karena untuk kembali pada hati dan pikiran yang suci, setiap umat manusia diharuskan melakoni perbuatan baik, termasuk memperbanyak amal dan kebajikan terhadap sesama.

"Walubi senantiasa mengajak para pemeluk Budha untuk berjuang melawan keserakahan dengan cara menggalang berbagai macam kegiatan sosial, serta mengikat diri untuk senantiasa menolong sesama. Dengan langkah itu, kita dapat berangsur-angsur mengurangi hawa nafsu keserakahan yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri," tandas Hartati.

Agenda pengobatan gratis tersebut diikuti oleh kurang lebih 8000 pasien, yang berasal masyarakat kurang mampu di sekitar kawasan Candi Borobudur.

Tenaga medis yang diterjunkan pun tak tanggung-tanggung, yaitu sekitar 200 dokter dengan berbagai macam spesialisasinya, seperti speialis anak, gigi, penyakit dalam, kandungan, mata, bedah, ataupun THT.

Jumlah itu masih ditambah dengan 368 tenaga paramedis, layaknya perawat, penata anestesi, tenaga analisi, petugas laboratorium, hingga dertan apoteker beserta asistennya.

Kegiatan tersebut dapat terselenggara juga berkat kerjasama yang dihajalin Walubi dengan TNI AU, TNI AD, serta Polri.

"Tentunya kami haturkan terimakasih pada seluruh pihak yang terlibat dalam pengobatan gratis ini. Kegiatan ini murni tanpa pamrih, serta terlepas dari latar belakang suku, agama, ras ataupun teknik, apalagi kepentingan politik praktis," pungkas Hartati.

Menurutnya, dengan gelaran semacam ini, masyarakat bersama Walubi pun bisa membangun sinergi sembari menikmati rasa persatuan dan kesatuan, yang berlandaskan Pancasila serta UUD 1945, di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved