Legenda Death Worm, Cacing Maut yang Begitu Ditakuti di Gurun Gobi

Sudah sejak lama keberadaannya diyakini secara turun - temurun di kalangan masyarakat Mongolia

Editor: Mona Kriesdinar
IST
Ilustrasi Death Worm 

TRIBUNJOGJA.COM - Death Worm atau Cacing Maut begitulah orang-orang Mongolia menyebutnya. Binatang yang diyakini hidup di Gurun Gobi tersebut sangat berbahaya dan begitu mematikan. Bentuknya pun tentu saja tak seperti cacing seperti pada umumnya. Melainkan binatang yang dalam bahasa Mongolia disebut olgoi-khorkhoi ini memiliki ukuran panjang hingga satu meter berwarna merah tua, dengan dua senjata mematikan. Yakni kulitnya yang sangat beracun, serta dapat membunuh manusia dengan cara melontarkan sengatan listrik. Mulutnya pun sangat menyeramkan, dengan taring - taring yang sangat tajam.

Sudah sejak lama keberadaannya diyakini secara turun - temurun di kalangan masyarakat Mongolia. Diceritakan dari generasi ke generasi. Namun, ternyata hingga saat ini belum ada bukti untuk mengungkap keberadaannya. Penelitian demi penelitian, sampai pada pencarian di Gurun Gobi pun tak pernah menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Pendek kata, binatang yang begitu ditakuti di Gurun Gobi ini pun hanya berakhir menjadi sebuah legenda.

Tapi, bagaimana kah awal mula munculnya cerita tentang Cacing Maut ini?

Keberadaan Cacing Maut ini kali pertama diketahui secara luas lewat sebuah buku karya seorang paleontologist asal Amerika bernama Roy Chapman Andrews pada tahun 1926 silam.

Dalam buku berjudul On the Trail of Ancient Man tersebut, Chapman sendiri sebenarnya menyebutkan ketidakpercayaannya. Namun ia menggarisbawahi bahwa cerita keberadaan cacing maut ini benar-benar diyakini oleh orang Mongolia.

Sejak saat itulah, berbagai penelian dilakukan. Dengan mencarinya langsung di Gurun Gobi, memasang perangkap, hingga melakukan wawancara dengan warga setempat. Tapi hasilnya nihil.

Oleh karena itulah muncul asumsi lainnya. Bahwa cerita ini sengaja dibuat untuk menarik perhatian orang saja.

Idenya hampir sama dengan cerita tentang keberadaan Bigfoot di kalangan masyarakat Amerika Utara, dan kisah tentang Yeti yang begitu diyakini oleh warga di sekitar Himalaya.

Meskipun cukup banyak yang mengklaim telah melihatnya, disertai dengan bukti foto yang diduga makhluk - makhluk tersebut, namun tetap saja, tidak ada bukti nyata yang menjelaskan keberadaan makhluk - makhluk tersebut.

Penjelasan yang lebih masuk akal tentang keberadaan cacing maut ini diperoleh dari perpsektif zoologis.

Mereka menyarankan untuk tidak terjebak dengan penggunaan istilah cacing. Ada dugaan bahwa apa yang disebut cacing oleh orang Mongolia bisa saja sebenarnya bukan cacing. Lantaran akan sangat sulit bagi binatang seperti cacing untuk bertahan hidup di kawasan yang sangat kering di Gurun Gobi.

Kalangan para ahli sebagian besar sepakat bahwa cacing maut ini kemungkinan merupakan jenis kadal tak berkaki atau Anniella grinnelli atau kadal cacing.

Sementara dugaan lainnya, cacing maut ini sebenarnya merupakan ular boa pasir.

Halaman
12
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved