Perang Materi Paku Alam Bergulir di PN Yogya

Majelis hakim PN Yogyakarta memutuskan menolak eksepsi yang disampaikan oleh pengacara Paku Alam X, Herkus Wijayadi.

Perang Materi Paku Alam Bergulir di PN Yogya
tribunjogja/khaerurreza
Hanya beberapa jam usai proses Jumenengan dan Kirab Ageng PA X, Kamis (7/1/2015), pihak Anglingkusumo langsung bereaksi dan mengeluarkan somasi. (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Meski KGPAA Paku Alam X telah ditetapkan sebagai Wakil Gubernur DI Yogyakarta, gugatan perebutan tahta Puro Pakualaman di Pengadilan Negeri (PN) Kota Yogyakarta terus bergulir.

Majelis hakim yang diketuai Barita Saragih, memutuskan menolak eksepsi yang disampaikan oleh pengacara Paku Alam X, Herkus Wijayadi yang menyatakan bahwa PN Kota Yogyakarta tidak berwenang mengadili perkara ini.

"Menolak eksepsi tergugat atas penggugat, PN Yogyakarta berwenang mengadili gugatan ini, mengingat gugatan penggugat adalah berkenaan perbuatan melawan hukum," kata Barita di PN Yogyakarta, Selasa (26/4/2016).

Setidaknya, ada tiga poin eksepsi dari pengacara Paku Alam X yang ditolak. Pertama, perihal kompetensi absolute bahwa tahta Paku Alam yang dipermasalahkan Anglingkusumo adalah masuk ranah hukum adat.

Kedua, perihal waris, yang menurut Herkus masuk di ranah pengadilan agama karena pewaris dan ahli waris sama-sama muslim. Dan ketiga, yakni perihal keabsahan tahta Paku Alam IX yang semestinya masuk dalam ranah Pengadilan TUN.

Meski demikian, Herkus mengatakan tak masalah dengan penolakan eksepsi tersebut. Ia mengaku siap menghadapi lanjutan persidangan gugatan itu untuk menghadirkan bukti dokumen maupun saksi.

"Kami pun siap membuktikan. Karena kami pun sudah sesuai hukum adat dan asas hukum perdata. Sejak digugat Paku Alam X sudah memberikan mandat kepada kami untuk menyiapkan bukti-bukti yang menguatkan,” ujarnya.

Pengacara KPH Anglingkusumo, Adi Susanto mengapresiasi keputusan majelis hakim itu.

Dalam persidangan, Adi mengatakan akan mengumpulkan bukti-bukti untuk kelanjutan gugatan itu. Dan pihaknya siap membuka bukti itu di persidangan.

"Ini adalah perang materi di persidangan. Untuk itu kami butuh waktu mengumpulkan bukti saksi-saksi. Karena seluruh saksi tak semua berada di Yogyakarta," kata dia.

Dengan kesiapan kedua belah Pihak, hakim Barita menetapkan persidangan perebutan tahta dan warisan di Pura Pakualaman itu akan dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda penyampaian bukti tertulis dari penggugat. (tribunjogja.com)

Penulis: vim
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved