Sulap Limbah Sabut Kelapa Jadi Pengisi Bantal Guling
Pelatihan pengolahan kelapa menjadi coco fiber atau serabut kelapa yang dijadikan bahan pengisi bantal atau guling.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sabut kelapa biasanya hanya berakhir sebagai bahan bakar dalam tungku tradisional atau menjadi sikat alami untuk mencuci perabotan rumah tangga.
Namun dengan sedikit sentuhan teknologi, sabut kelapa bisa bernilai ekonomis tinggi.
Hal tersebut yang dikenalkan mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Gadjah Mada (UGM), kepada masyarakat Kokap, Kabupaten Kulonprogo, untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Mereka adalah Yofrizal Alfi, Fikri Muhammad, Yulisyah Putri Daulay, Putu Sri Ronita Dewi, serta Verna Ardhi Hafsari memberikan edukasi kepada warga Gunung Kukusan, Hargorejo, Kokap, Kulonprogo.
Fikri mengatakan di Gunung Kukusan terdapat 160 kepala keluarga. Rata-rata setiap kepala keluarga memiliki sekitar 14-40 pohon kelapa.
“Sabut kelapa di Gunung Kukusan sangat berlimpah, tapi produk sisa penjualan buah kelapa ini hanya ditumpuk dan menjadi sampah. Belum ada yang memanfaatkannya lebih lanjut menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis,” ucap Fikri, ketika ditemui di Fakultas Teknik UGM, Senin (11/4/2016).
Hal tersebut yang pada akhirnya membuat kelima mahasiswa ini berinisiatif menggandeng masyarakat untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi sabut kelapa.
Program yang telah berjalan sejak awal Maret 2016 lalu, yakni memberikan pelatihan pengolahan kelapa menjadi coco fiber atau serabut kelapa yang dijadikan bahan pengisi bantal atau guling.
Tak hanya itu, mereka juga memberikan mengajarkan cara membuat sarung bantal atau guling, hingga strategi pemasaran produk.
“Produk yang dihasilkan berupa bantal dan guling yang kami namai O Coco dengan sarungnya bermotifkan tema Indonesia,” ujarnya.
Program pendampingan pengolahan coco fiber tersebut berhasil mendapatkan dana hibah dari Dirjen Dikti serta dipresentasikan dalam International Conference on Community Service pada 8-10 April 2016 lalu.
Mereka berharap program tersebut mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan warga Gunung Kukusan.
"Selain itu, juga bisa menjadi pusat pengolahan limbah sabut kelapa menjadi coco fiber yang dikenal secara luas," pungkas Fikri. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pelatihan-pengolahan-limbah-sabut-kelapa_20160413_050512.jpg)