Anak Siyono Enggan Sekolah dan Rumah Sering Diawasi

Anak-anak dari Siyono dan istrinya, Suratmi juga tidak masuk sekolah karena peristiwa itu. Aktiviras keluarga besar juga ikut terganggu.

Anak Siyono Enggan Sekolah dan Rumah Sering Diawasi
Tribun Jogja/Padhang Pranoto
Suasana pertemuan di rumah keluarga Siyono, Rabu (30/3/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Keluarga almarhum terduga teroris Siyono menginginkan hasil autopsi yang dilakukan Muhammadiyah ataupun Komnas HAM cepat terselesaikan.

Hal itu mengingat keluarga besarnya cukup terganggu aktifitasnya, akibat kasus tersebut. Selain itu, anak-anak dari Siyono dan istrinya, Suratmi juga tidak masuk sekolah karena peristiwa itu.

"Anak adik saya yang pertama, yang bersekolah di sebuah SMP di Sukoharjo tidak mau masuk sekolah. Hal itu karena selalu ditanyai oleh teman-temannya, tentang ayahnya. Sementara kedua adiknya yang bersekolah di Bayat, memang masuk tetapi kini saya yang mengantarkan. Kalau pada hari normal, yang mengantar uminya (ibunya) atau abinya (ayahnya- saat Siyono masih hidup)," tutur kakak korban, Wagiyono.

Menurutnya, semua hal yang dilewati pasca kematian adiknya sungguh menyita kehidupan normal, keluarga yang tinggal di Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas.

"Sampun rumangsa kesel, karepe ki mriki gek sampun lan gek ganti kegiatan sanesipun mboten mikir niku malih (Sudah capek, harapan keluarga permasalahan ini cepat selesai, agar bisa berganti kegiatan lain, tidak memikirkan hal itu saja)," kata Wagiyono.

Merasa Diawasi

Kepada awak media, ia blaka (jujur) tentang kondisi yang ada disekitar rumahnya yang sering merasa diawasi. Ia mengatakan, hal itu terutama dirasakannya setelah pelaksanaan autopsi adiknya, pada Minggu (3/4/2016).

"Hampir tiap hari ada satu sampai dua orang asing berganti-ganti memantau keluarga kami. Tak jarang, mereka pun ikut salat di Masjid Muniroh, yang berada di dekat rumah adik saya," tuturnya.

Dikatakannya, ia tidak berani bertanya mengenai siapa sejatinya orang yang "memata-matai" keluarganya. Namun demikian, setelah pembicaraan singkat, mereka berkata dari Bandung, Bekasi dan Surabaya.

Ia berkata, modus yang dilakukan oleh orang asing tersebut kadang menjadi makmum salat, atau sekedar mengucapkan bela sungkawa. Disamping itu, adapula mereka yang berkeliling menggunakan motor, disekitar rumahnya. (tribunjogja.com)

Penulis: pdg
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved