We Are The Fans
Fotografer Anom Sugiswoto kembali melakukan proyek bertajuk ‘We Are The Fans’
Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM - Setelah melakukan proyek ‘We Need More Stages’ yang masih dilakukan hingga saat ini, fotografer Anom Sugiswoto kembali melakukan proyek bertajuk ‘We Are The Fans’.
Beberapa karya-karyanya dipamerkan di Judi Art Space, Jln Mangkuyudan 41 Yogyakarta. Pada malam pembukaan Minggu, (2/4) sekaligus menjadi momen peluncuran sebuah situs fotografi bernama wearethefans.net.
Seniman Oik Wasfuk pada pengantarnya mengatakan bahwa fotografi merupakan bagian dari seni visual, dengan ilmu terapan sebagai pendokumentasian dari sebuah kejadian dan peristiwa.
Melalui presentasi tunggalnya kali ini, Anom membuka kembali arsip data foto hasil bidikannya sejak 2004 silam ke hadapan publik.
Berbeda dengan proyek sebelumnya dimana ia merekam momen para musisi lokal, interlokal, maupun internasional yang beraksi di atas panggung dengan segala keriuhannya, maka fokus kali ini terletak pada para penontonnya.
Menurut Oik, lewat karya-karya ini kita bisa melihat relasi sosial tercipta antara fotografer dengan obyeknya, lalu mengajak kita sebagai penonton untuk menonton ‘para penonton’ dan menjadi bagian dalam suasana yang terekam dalam bingkai foto.
Menurut Anom ide dari proyek ini berawal ketika setiap usai acara musik yang didatanginya, ia selalu dimintai foto oleh para penonton, baik yang ia kenal, maupun yang belum dikenalnya.
Dari sinilah Anom berkeinginan untuk membuat wadah yang bisa memenuhi keinginan para ‘penonton’ musik, yakni mereka yang ingin mengecek keberadaan mereka pada sebuah ‘gigs’ lewat jepretan Anom.
Para ‘penonton’ tersebut selanjutnya bisa menikmatinya pada sebuah website yang disingkronkan dengan akun sosial media milik mereka.
‘We Are The Fans’ ini mengajak ‘para penonton’ untuk menikmati masa lampau, bahkan ikut menertawakan hal-hal yang pernah terjadi.
Anom mengaku bahwa ada beberapa kendala ketika ingin memamerkan koleksi-koleksi fotonya, terutama ialah mereka yang keberatan, dan tidak ingin fotonya ditampilkan dan dipamerkan kepada publik, meski menurut Anom foto tersebut ialah karya yang baik.
Namun seperti yang dikatakan Oik, pameran ini telah menegaskan kembali bahwa fotografi telah menjadi kebutuhan primer kehidupan sosial masa kini.
Bukan semata-mata tentang ruang sosial antara fotografer dan obyek fotonya, namun tentang bagaimana hasil dan praktik ini kemudian dimaknai dan diperlakukan oleh publik yang secara tidak langsung membentuk ruang sosialnya sendiri. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pameran-foto_kjgf_20160410_154015.jpg)