Batik Sinom Parijotho Salak, Buah Tangan Berkualitas dari Sleman

Yang juga spesial dari batik produksi Batik Ayu Arimbi adalah proses pewarnaanya menggunakan pewarna alami.

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Hamim Thohari

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Batik telah menjadi warisan budaya asli Indonesia yang keberadaanya telah diakui dunia.

Dan batik pun di Indonesia tersebar luas di Indonesia, masing-masing daerah memiliki corak dan motif tersendiri.

Dari sekian banyak daerah yang cukup terkenal akan batiknya adalah Yogyakarta. Maka tak heran, wisatawan yang berkunjung ke kota ini seringkali menjadikan batik sebagai buruan.

Seiring dengan terus meningkatnya pamor batik, dan kesadaran masyarakat yang semakin tinggi untuk menggunakan batik, saat ini mulai bermunculan para pengrajin batik baru.

Seperti yang ada di Dusun Plalangan, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat kelompok pengrajin batik "Batik Ayu Arimbi".


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Dijelaskan Tatik Susilowati selaki wakik ketua kelompok, Batik Ayu Arimbi mulai dirintis pada November 2013.

"Desa ini dulunya sama sekali tidak memiliki sejarah sebagai desa penghasil batik. Keterampilan membuat batik kami dapat dari pelatihan yang diberi Dinas perindustrian, perdagangan dan koperasi (Disperindagkop) Sleman," ujarnya.

Kelompok yang beranggotakan 16 orang ini memproduksi batik tulis maupun batik cap. Meskipun terbilang baru, tetapi pesanan kain batik sudah banyak diterima oleh Batik Ayu Arimbi.

Batik Sinom Parijotho Salak, adalah motif andalan yang diproduksi kelompok ini. Motif ini adalah diciptakan oleh salah satu warga Sleman dan memenangkan lomba desain batik Sleman tahun 2012.

Saat ini Sinom Parijotho Salak telah menjadi motif batik khas Sleman.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Adapun motif ini terinsipirasi tanaman parijotho, tanaman dedaunan yang banyak tumbuh di kawasan pegunungan.

Untuk menghasilkan selembar kain batik, memerlukan proses yang panjang. Dijelaskan Tatik, memproduksi kain batik diawali dengan membuat motif menggunakan malam dengan cara dicanting (batik tulis) maupun dicap.

Setelah itu ada proses pewarnaan dengan cara dicolet.

"Kemudian ada lagi proses pewarnaan dasar. Proses pemberian warna ini bisa sampai beberapa kali, tergantung kombinasi warna yang kita inginkan. Semakin banyak warna, prosesnya semakin panjang," ungkap Tatik.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Pewarna Alami

Yang juga spesial dari batik produksi Batik Ayu Arimbi adalah proses pewarnaanya menggunakan pewarna alami. Dikatakan Tatik, untuk menghasilkan warna ungu bahan yang digunakan adalah daun pohon puring.

Sedangan kayu tegeran menghasilkan warna kuning, kulit pohon tingi untuk pewarnaan merah, dam kulit buah jolawe hasilkan warna hijau.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Untuk memperoleh kain batik dengan motif khas Sleman ini, harga yang harus ditebus adalah mulai Rp130 ribu hingga Rp215 ribu untuk ukuran kain dua meter.

Mengikuti beragam pameran dan melalui media online adalah cara promosi yang dilakukan kelompok pengrajin batik ini untuk memasarkan produk mereka. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved