Pengamat Politik : Yogyakarta Butuh Calon Independen yang Antimainstream

Pengamat politik menilai jalur independen dipilih karena pencalonan via parpol yang sulit.

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Muhammad Fatoni
net
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jalur independen menjadi salah satu cara dari calon atau paslon yang akan maju dalam Pemilihan Kepala Daerah.

Pengamat politik menilai jalur independen dipilih karena pencalonan via parpol yang sulit.

Peneliti Institute Research and Empowerment (IRE), Suraji, menuturkan, calon independen adalah sikap politik dari warga yang memiliki kemampuan dan kapasitas memimpin namun menghadapi kesulitan menempuh jalur via partai politik.

Menurutnya, masyarakat yang terpanggil untuk memimpin daerah, jalur independen tanpa melalui tunggangan Partai Politik menjadi pilihan yang feasible dan cocok buatnya.

"Bagi warga yang mau mencalonkan, namun tidak adanya maupun sulit menempuh jalur parpol, independen bisa menjadi satu-satunya pilihan," ujar Suraji, Jumat (18/3/2016).

Suraji mengatakan, jalur via parpol cukup sulit untuk ditempuh. Salah satu faktornya adalah karena belum ada satu pun parpol yang memiliki sistem yang baik dalam melaksanakan rekrutmen bakal calon yang akan duduk di jabatan publik.

"Mekanisme rekrutmen yang sulit karena parpol belum memiliki sistem rekrutmen yang baik untuk mencari calon pejabat publik, seperti di legislatif atau pimpinan daerah," tuturnya.

Papar Suraji, sistem rekrutmen partai yang belum baik menjadi biang dari high cost politic yang mensyaratkan memiliki modal keuangan yang besar.

Selain itu, menurutnya perilaku rent seeking masih mewabah dalam diri oknum-oknum Parpol dalam proses pencalonan.

"Mengapa via parpol sulit? Karena parpol kita kebanyakan bukan partai kader. Sistem rekrutmen yang kurang baik menyebabkan high cost politic dan perilaku rent seeking yang mewabah," ujar Suraji.

Mengenai Pilwali Yogyakarta pada 2017 mendatang, Suraji menuturkan, Yogyakarta membutuhkan calon independen yang anti mainstream. Sang calon memiliki gaya kepemimpinan yang tegas tapi tidak formal atau kaki.

Lanjutnya, calon tersebut memiliki pemikiran pemikiran dan visi tentang kota yg ramah HAM, kota multikultur, kota kreatif kelas dunia, dan kota cerdas berbasis lokalitas jogja dan teknologi informasi.

"Ia juga wajib memiliki rekam jejak yang kredibel dalam mengelola urusan-urusan sosial, ekonomi, politik dan budaya dengan berbagai komunitas yang beragam," ujar Suraji.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved