Kali Pertama, Muncul Rekahan Raksasa di Antartika

Mungkinkah akan terjadi sesuatu?

Kali Pertama, Muncul Rekahan Raksasa di Antartika
Christine Dow/NASA Goddard
Rekahan lapisan es di Antartika 

TRIBUNJOGJA.COM - Ilmuwan telah menemukan adanya retakan es berukuran sangat besar di benua selatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemanasan global yang terjadi saat ini diperkirakan menjadi penyebab retaknya bongkahan es tersebut.

Kejadian itu terlihat oleh satelit Geologi Survey Amerika Serikat (USGS) Landsat 8. Bongkahan es Nansen yang luasnya mencapai 1.750 kilometer persegi, atau dua kali ukuran Pulau Manhattan terancam hilang.

Peningkatan suhu global menyebabkan sisi bawah massa es besar mencair dan melemah. Pada tahun 1995, Larsen A di Semenanjung Antartika runtuh.

Kemudian tahun 2002, Larsen B juga runtuh dan Larsen C mengalami penipisan. Sedangkan retakan di Nansen yang tak terlihat dua tahun lalu, saat ini sudah terlihat jelas hampir di sepanjang bongkahan.

"Ada celah besar, panjang dan kadang memiliki lebar lebih dari seratus yard di bagian depan Nansen Ice Shelf," kata Ryan Walker, peneliti di NASA Goddard seperti dikutip dar iflscience, Kamis (17/3/2016).

Bila Nansen runtuh, maka bongkahan es di Antartika berkurang 0,1 persen. Ini juga dapat meningkatkan garis pantai Antartika sekitar 75 persen, sehingga setara dengan 1,56 juta kilometer persegi.

Namun perlu diketahui, Nansen bukanlah bongkahan es yang terbesar karena masih ada Ross yang memiliki luas 472.000 kilometer persegi. Bongkahan es yang berukuran 360 kali Pulau Manhattan ini runtuh pada akhir zaman es sekitar 10.000 tahun lalu.

Meskipun runtuhnya es-es itu tidak serta merta menaikkan air laut, tetapi sebuah gletser yang jatuh ke laut dapat bergerak dengan sangat cepat. Bongkahan es seperti Nansen berfungsi sebagai barikade bagi gletser di belakangnya.

Oleh karena itu bila bongkahan es hilang, maka gletser akan bergerak dengan kecepatan tinggi dan dapat menaikkan permukaan air laut.

Tidak hanya kali ini saja ilmuwan menemukan retakan yang berbahaya. Pada tahun 2015 lalu, di daerah pedesaan di dekat Ten Sleep, utara Wyoming, AS dilaporkan adanya retakan tanah besar yang muncul secara tiba-tiba.

Seperti dilaporkan CBS Denver, retakan tanah itu memiliki panjang sekitar 700 meter dan lebar 45 meter. Ahli geologi memperkirakan penyebab retakan itu karena air tanah yang memperlemah struktur bagian atas tanah.

Kemudian pada tahun 2009, para ahli menemukan retakan raksasa di gurun Ethiopia yang diperkirakan dapat membentuk samudera baru. Laporan para peneliti dalam jurnal Geophysical Research Letters menjelaskan, proses pembentukan celah itu identik dengan yang terjadi di bawah lautan.

Retakan itu memiliki panjang 56327,04 meter dan lebar 6,1 meter. (*)

Penulis: say
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved