Petani Bantul Diminta Waspadai Puncak Serangan Hama Wereng

Berdasarkan perkiraan para ahli mengenai hama tanaman, potensi serangan wereng diperkirakan justru paling berbahaya pada bulan Juni-Juli.

Petani Bantul Diminta Waspadai Puncak Serangan Hama Wereng
TRIBUNJOGJA.COM | RENTO ARI NUGRAHA
Beberapa petani di desa Majir kecamatan Kutoarjo, Purworejo terpaksa memanen sawahnya lebih awal, akhir pekan lalu. Hal ini dilakukan karena munculnya serangan hama wereng yang membuat produktivitas lahan anjlok. (ilustrasi) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Anas Apriyadi

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Serangan hama wereng yang menyerang pertanian di selatan Bantul pada musim tanam pertama saat ini ternyata belum seberapa, petani diminta tetap waspada dengan perkiraan puncak serangan wereng pada musim tanam kedua.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Partogi Dame Pakpahan mengungkapkan berdasarkan perkiraan para ahli mengenai hama tanaman, potensi serangan wereng diperkirakan justru paling berbahaya pada bulan Juni-Juli.

"Di Juni dan Juli secara klimatologi kita masuk pada musim kering tak terkendali," tuturnya pada Senin (29/2/2016).

Serangan wereng menurutnya memang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti iklim yang kurang bersahabat yang menyebabkan kelembaban tidak teratur sehingga bakteri, virus, dan hama makin berkembang.

Karenanya, antisipasi yang diupayakan pemerintah menurutnya dengan melakukan sosialisasi kepada para petani agar upaya menghindari wereng bisa dimulai sebelum masa tanam kedua. Upaya pencegahan menurutnya harus dimulai dari saat pengolahan tanah, persemaian, hingga pada pemilihan bibit.

"Mulai persemaian diberi perlakuan khusus tanah disemprot dulu dengan pestisida organik bukan anorganik," terangnya.

Penyebab lain dari berkembangnya hama menurutnya juga karena kualitas tanah yang makin menurun dengan penggunaan pupuk anorganik yang belebihan, karena kualitas tanah menurutnya juga perlu diperbaiki dengan penggunan pupuk organik yang ekstrim.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bantul, Suroto mengungkapkan pada musim tanam pertama kali ini memang banyak tanaman di kawasan selatan Bantul yang terserang wereng.

Untuk mengantisipasinya pada musim tanam kedua, petani menurutnya diharapkan bisa menggunakan sistem tanam jajar legowo (tajarwo), sehingga lebih mudah dalam melakukan pengamatan dan pengendalian apabila terserang wereng.

Selain itu petani juga dihimbaunya bisa memilih bibit yang sudah terbukti tahan terhadap wereng. "Jangan sampai tergiur bibit padi hibrida," katanya.

Dia juga sependapat jika penggunaan pupuk nitrogen dikurangi agar serangan wereng bisa dikurangi, berdasarkan pengamatannya, kebanyakan lahan yang terserang wereng merupakan bekas tanaman melon yang penggunaan pupuk anorganiknya luar biasa. (tribunjogja.com)

Penulis: apr
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved