Teater Gadjah Mada Sukses Lakonkan "Masihkah ada Cinta d(ar)i Kampus Biru"

Teater Gadjah Mada (TGM) sukses menggelar pertunjukkan untuk kalangan terbatas dengan judul "Masihkah ada Cinta d(ar)i Kampus Biru"

Penulis: gil | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Ikrar Gilang
Teater Gadjah Mada (TGM) sukses menggelar pertunjukkan untuk kalangan terbatas dengan judul Masihkah ada Cinta d(ar)i Kampus Biru , Rabu (10/2/2016) di Ruang Galeri, PKKH UGM. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrar Gilang Rabbani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Teater Gadjah Mada (TGM) sukses menggelar pertunjukkan untuk kalangan terbatas dengan judul "Masihkah ada Cinta d(ar)i Kampus Biru", Rabu (10/2/2016) di Ruang Galeri, PKKH UGM.

Pertunjukan tersebut menafsir ulang novel Cintaku di Kampus Biru pada tahun 1974 karya Ashadi Siregar dengan tambahan acuan dari film arahan sutradara Ami Prijono dengan judul yang sama di tahun 1976.

Cerita masih seputar kisah cinta antara Anton di Kampus Biru dengan mahasiswi bernama Marini dan dosen bernama Yusnita beserta sekelumit permasalahan kampus.

Menariknya, pertunjukkan menggunakan banyak medium seperti cuplikan dalam film dan kutipan-kutipan kalimat dalam novel sebagai layar dalam adegan.

Irfanuddin Ghozali, selaku sutradara dan pelatih TGM menyampaikan bahwa tidak ada cerita yang berubah dari novel maupun filmnya.

Ia hanya memperbarui adegan agar sesuai dengan realitas saat ini.

"Sesuai filmnya tahun 1976, adegan dimulai dengan percintaan di semak-semak, namun saya ubah menjadi di toilet," ujar Ghozali.

"Naskah ini mengupas kembali romansa percintaan klasik di Kampus Biru namun menyesuaikan realitas era saat ini," terang Ghozali.

Menurutnya, kisah dalam novel terdahulu masih relevan dengan kondisi saat ini.

"Dulu sekitar tahun 70an, anak muda masih larut dalam harapan setelah pergantian orde lama ke orde baru. Begitu pula saat ini, anak muda masih dalam suasana pesta demokrasi pasca reformasi," ujar Ghozali.

Selain mengadaptasi sesuai realitas jaman, pertunjukkan ini juga tidak membatasi gender dalam penokohan. Seorang aktor bisa memerankan tokoh wanita, begitu pula sebaiknya.

"Ini tentu hal biasa dalam seni pertunjukkan. Kita mengambil semangat dalam tokoh, bukan fisiknya. Jadi siapa saja bisa memerankan tokoh Anton maupun Yusnita tanpa melihat jenis kelamin," tutur Ghozali.

Pertunjukkan teater dapat dinikmati masyarakat umum pada hari ini dan besok, 11-12 Februari 2016 pukul 19.30 WIB di Ruang Galeri PKKH UGM. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved