Dysmorphia Gigi Terus Meningkat Seiring Merebaknya Foto Selfie

Dokter gigi semakin banyak melakukan perawatan yang tak diperlukan karena pasien mengeluh soal gigi yang kurang bagus di foto.

Dysmorphia Gigi Terus Meningkat Seiring Merebaknya Foto Selfie
mirror.co.uk
Pasien banyak yang mengira bahwa gigi depan mereka terlalu besar. Saat ini dokter gigi berusaha mengedukasi pasien agar tidak melakukan perawatan yang tak perlu. 

TRIBUNJOGJA.COM - Sebuah kondisi baru yang dikenal sebagai dysmorphia gigi terus meningkat seiring banyaknya orang yang terobsesi dengan foto selfie.

Dokter gigi semakin banyak melakukan perawatan yang tak diperlukan karena pasien mengeluh soal gigi yang kurang bagus di foto.

Sebagaimana dikutip dari mirror.co.uk, Rabu (3/2/2016), ahli bedah di London melihat peningkatan jumlah orang yang ingin memperbaiki gigi depan mereka. Orang-orang itu merasa bahwa gigi depan mereka tampak lebih besar di foto selfie.

Mereka tak menyadari bahwa kamera ponsel dapat menciptakan distorsi sehingga gigi tampak lebih besar di gambar. Padahal dalam kehidupan nyata, gigi mereka baik-baik saja.

Menurut Direktur Klinik London Smile, Tim Bradstock-Smith, masalah akan timbul karena foto selfie diambil terlalu dekat sehingga menjadi terdistorsi.

"Misalnya gigi berada di tengah gambar dan nampak besar, orang terdorong untuk membuatnya lebih bagus. Sementara foto-foto ini tak dapat disangkal akan membesar-besarkan cacat yang menyesatkan," katanya.

Dr Bradstock-Smith menjelaskan, selfie telah menjadi cara yang paling populer bagi perempuan untuk menilai penampilan mereka. Oleh karena itu, ia berbicara pada beberapa pasien agar tidak melakukan perawatan yang tak diperlukan.

Banyak pasien yang berpikir bahwa dua gigi depan akan indah bila dominan lebih kecil. Terciptanya "smile curve" di foto dianggap lebih natural, feminin dan tampil muda.

"Kami akan mengambil beberapa foto tidak terdistorsi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi sebelum melakukan pengobatan. Namun selfie telah menyebabkan permintaan untuk mengurangi dominasi natural dua gigi depan meningkat," urai Smith.

Dalam waktu 5 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan sebesar 30 persen pasien yang ingin memperbaiki gigi depan mereka. Mereka mengirim foto gigi depan ke website tetapi ketika datang tak ada yang buruk sama sekali.

Saat ini, Smith menolak dua sampai tiga pasien setiap minggu karena memang giginya tidak bermasalah. Ia hanya memberikan saran simpel untuk mengatasi kekhawatiran itu.

Bahkan ia juga memberi saran agar foto selfie diambil dengan tongkat narsis (Tongsis) atau memperpanjang lengan sejauh mungkin untuk mencapai jarak ekstra. Ini agar gigi depan tidak terlihat terlalu besar saat di foto. (*)

Penulis: say
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved