Selamat dengan Luka Bakar 99%, Perusahaan Justru Ingin Karyawannya Ini Meninggal
Sejak ia mengalami kecelakaan kerja, tak pernah sekalipun direktur perusahaan tempatnya bekerja menjenguk dirinya di rumah sakit
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, YUNNAN - Yuan Longhua (38) seorang pekerja di pabrik CQC Group mengalami kecelakaan kerja yang membuatnya mengalami cacat seumur hidup.
Lukanya sangat parah, dimana sekujur tubuhnya rusak akibat luka bakar parah.
Nyaris, 99% badannya mengalami luka bakar. Ajaib, pria asal Provinsi Yunnan itu ternyata masih bisa bertahan hidup.
Miris, cobaan yang diterima tak hanya sampai disitu. Bantuan keuangan dari tempatnya bekerja ternyata perlahan-lahan mulai tak lancar. Bahkan perusahaan membujuk keluarga Yuan untuk menyuntik matinya.
Sebagaimana dilansir XinHua, Kamis (21/1/2016), kondisi ini bermula ketika dirinya secara tak sengaja jatuh ke dalam tong mendidih pada 1 Agustus 2015 lalu. Ia jatuh diduga akibat kelelahan setelah bekerja nonstop selama 13 jam.
Akibat kecelakaan itu, ia harus menjalani beberapa kali operasi untuk merekonstruksi kembali kulitnya yang rusak. Kaki kanannya pun terpaksa diamputasi.
Saat itu, ia masih memeroleh bantuan biaya pengobatan hingga akhirnya sejak bulan Oktober 2015 lalu, bantuan itu pun mulai berhenti.
Bahkan pihak perusahaan membujuk saudaranya, Yuan Longyun untuk menghentikan pengobatan sehingga uangnya bisa dialihkan untuk kompensasi kematian.
Permintaan tak berperikemanusiaan dari pihak perusahaan itu, disampaikan melalui pesan singkat kepada Longyun.
"Kami menyarankan kepada pihak keluarga untuk memberitahu rumah sakit supaya menghentikan pengobatan, dengan begitu kami akan membayar kompensasi setelah kematiannya," demikian isi pesan singkat tersebut.
Longyun pun kemudian membalas pesan singkat tersebut.
"Jadi maksud anda kami harus menyuntik mati dia? Anda tak akan menyediakan lagi bantuan biaya pengobatan?"
Namun, pesan singkat itu tak pernah lagi dibalas oleh pihak perwakilan perusahaan.
Longyun menjelaskan, sejak kakaknya itu mengalami kecelakaan, pihak keluarga belum pernah sekalipun bertemu dengan direktur tempat kakaknya bekerja.
Selama ini, mereka hanya berhubungan dengan pihak perwakilan perusahaan.
Adapun sejak bantuan biaya itu berhenti, pihak keluarga berupaya keras mencari uang untuk membayar biaya rumah sakit yang tak sedikit.
Supaya pengobatannya bisa dilanjutkan, pihak keluarga setidaknya harus menyediakan uang sekitar Rp 63 juta. Selain itu mereka juga masih berhutang sekitar Rp 189 juta.
Setelah kisah ini terungkap, pihak perusahaan akhirnya mencari cara untuk melanjutkan bantuan biaya pengobatan.
Akan tetapi pihak rumah sakit yang menangani Yuan mengatakan bahwa perusahaan telah bertindak sangat bodoh.
"Itu sangat tidak bijaksana untuk menunda pembayaran. Jika bisa dibayar segera, tentu saja pengobatannya juga akan semakin cepat dan Yuan bisa pulih secepatnya juga. Sehingga mereka sebenarnya tidak perlu mengeluarkan lebih banyak uang lagi untuk biaya perawatan jika Yuan sudah pulih," papar seorang dokter di Quanzhou 180 Hospital. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kecelakaan-kerja_2301_20160123_190910.jpg)