Penulis Asal Gunungkidul Ini Senang Berbagi Kebahagiaan Melalui Cerita

Sebangaimana penulis-penulis lain, untuk menulis novel pertama kalinya, tentunya tidak mudah bagi Mini.

Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Muhammad Fatoni
Mini GK 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

Bagi Mini GK, menulis buku tidak ubahnya sebagai sarana untuk berbagi kebahagiaan. Motivasi tersebutlah yang mendorongnya untuk terus berkarya selama ini.

ADAPUN perkenalan Mini GK dengan dunia menulis dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMP. Perempuan bernama asli Tri Darmini ini juga sempat mengikuti lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) waktu SMA. Sejak saat itu, Mini pun mengaku keterusan suka menulis.

Sebangaimana penulis-penulis lain, untuk menulis novel pertama kalinya, tentunya tidak mudah bagi Mini.

"Tapi kalau sudah tahu tujuannya, mau apa setelah ini, ya sudah jalanin saja dengan bahagia. Kalau dari awal sudah anggap susah ya maka akan susah," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Saat menulis, perempuan kelahiran Kabupaten Gunungkidul, DIY, 23 Februari 1989, ini hanya memiliki motivasi sederhana, yakni ingin berbagi kebahagiaan, ingin memberikan sesuatu yang bisa menghibur pembacanya.

Ketenaran, baginya, hanya merupakan bonus semata. Ia mengaku, saat menulis tantangan paling berat adalah menaklukkan kemalasan dalam diri sendiri. Karena itu, ia berpesan agar penulis hendaklah jangan suka panik.

Tantangan juga datang dari faktor eksternal, satu di antaranya adalah tidak semua orang paham apa yang dituliskan. Terlebih juga, di luar sana, banyak kritikus yang akan rajin mencari celah buat mencela.

"Banyak-banyak kumpul sama orang orang hebat yang punya pemikiran positif agar terhindar dari prasangka buruk," menjadi pesan penting bungsu dari tiga bersaudara ini.

Dengan seluruh tantangan tersebut, Mini telah mampu melahirkan empat novel dan lebih dari 25 antologi bersama, sejak tahun 2011.

Novel pertamanya berjudul Abnormal terbit 2012, Stand By Me terbit pada 2013, Le Mannequin terbit pada 2014, dan Pameran Patah Hati terbit pada 2015.

Ketekunan juga mendorongnya memperoleh beberapa penghargaan, di antaranya, Penghargaan Karya Sastra Remaja Terbaik dari Balai Bahasa Yogyakarta, dan penghargaan Pemuda Award dari Kabupaten Gunungkidul atas karya sastra pada tahun 2015.

Untuk menembus penerbit, Mini punya kiat tersendiri. Pertama, penulis harus mengenal penerbit tersebut, cari tahu apa yang diinginkan penerbit, dan apa yang mereka hindari.

Kedua, pelajari buku buku terbitan penerbit yang diincar dengan cara banyak baca buku yang diterbitkan di sana. Ketiga, siapkan tulisan yang paling baik yang bisa kita tulis. Dan yang terpenting, selalu jaga sikap meski pernah ditolak penerbit.

"Tidak usah sok-sok membesarkan masalah hanya karena pernah ditolak, serta jangan sekali-kali mengirim 'sampah' ke penerbit," kata pehobi jalan-jalan, membaca dan menulis ini. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved