Bawa Filosofi Catur ke Kehidupan Nyata
Hanifa bercerita sejak kecil ia sudah dikenalkan catur oleh sang ayah.
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari
Dunia catur melekat pada dara yang masih duduk di bangku kelas dua SMA Negeri 1 Yogyakarta ini. Bahkan olahraga yang mengandalkan otak untuk mengatur strategi dapat membawanya menjuarai Porda XIII DIY pada Oktober silam.
Adalah Hanifa Prabaningrum (17) atlet catur perwakilan Sleman, telah menyabet satu medali emas di kelas beregu standar 90 menit, dan perak di kelas beregu kilat 10 menit dalam Porda tahun kemarin. Kemenangan tersebut menambah puluhan prestasi yang ia capai selama menekuni catur sejak duduk di bangku SD.
Hanifa bercerita sejak kecil ia sudah dikenalkan catur oleh sang ayah. Karena hal itu pula, hingga kini ia terus mengasah kepekaannya dan terlibat dalam perlombaan catur, baik tingkat regional maupun nasional.
Putri kedua pasangan Sardiyono dan Tri Sustiani warga Margodadi, Seyegan, Sleman ini bercerita awal dirinya mengenal catur. Ketika masih kelas 3 SD ia melihat kesibukan kakak perempuannya mempersiapkan diri dalam lomba catur. Karena penasaran, ia bertanya kepada ayahnya perihal permainan ini.
"Karena penasaran bapak kemudian ngajarin. Pas sudah tahu langkah-langkahnya kemudian aku mencoba bertanding melawan bapak, dan langsung menang," ujar Hanifa disambut tawanya.
Kendati seluruh anggota keluarga mengenal catur, hanya Hanifa saja yang terlihat menonjol di cabang olahraga ini.
Kemenangan itu lantas dilihat ayahnya sebagai bakat hingga akhirnya memutuskan untuk mengikutkan Hanifa ke sekolah catur.
Akan tetapi aktivitas di sekolah catur tak berlangsung lama. Ia memilih untuk mengikuti pelatihan secara privat saja.
Selengkapnya simak di halaman 19 Tribun Jogja edisi Minggu (24/1/2016). (*)