Mahasiswa UGM Tolak Relokasi Kantin Bonbin

Djoko yang merupakan anggota warga Kantin Bonbin yang sudah menjadi bagian dari perjalanan tersebut, menolak relokasi.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Kurniatul Hidayah
Save Kantin Bonbin 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kantin Bonbin, bukan sekadar tempat makan favorit mahasiswa FIB UGM.

Lebih dari itu, Kantin Bonbin telah menjadi monumen dari sejarah kehidupan mereka.

Setidaknya itu yang meluncur dari bibir pelanggan setia Kantin Bonbin, Djoko Tri Budiono.

Pria yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Sastra pada tahun 1998 tersebut menggambarkan keadaan Kantin Bonbin di eranya tersebut.

Letaknya berdekatan dengan Fakultas Filsafat, Sastra, Psikologi, dan Ekonomi. Berbagai pengunjung pun datang dan menghabiskan waktu bersama di tempat tersebut, mulai dari tukang hingga Profesor.

Berbincang tentang tema acara kampung hingga diskusi ilmiah. Bertutur dengan gaya bahasa dari sehalus priyayi hingga teriak-teriak seperti preman, semua hidup dengan damai dalam Kantin Bonbin.

"Walaupun dari berbagai kalangan yang tumplek blek di situ tapi nggak pernah ada yang namanya percekcokan. Damai dan penuh dengan tenggang rasa. Hubungan antara pengunjung dan pedagang juga seperti sahabat. Saling bercanda, ejek-ejekan, kalau ada pedagang yang sedang kesusahan, pelanggan setia Kantin Bonbin juga akan membantu dengan ikhlas," terangnya kepada Tribun Jogja, Selasa (12/1/2016).

Djoko yang merupakan anggota warga Kantin Bonbin yang sudah menjadi bagian dari perjalanan tersebut, menolak relokasi.

Menurutnya Kantin Bonbin merupakan tempat saling bertukar informasi, gagasan, hingga pergerakan mahasiswa yang ikut andil menentukan sejarah bangsa, berawal dari sana.

Hal senada diungkapkan Daru, mahasiswa Ilmu ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM yang tampak menikmati santap siang bersama rekan-rekannya yang lain.

Dengan lantang ia menolak relokasi Kantin Bonbin yang lokasinya dekat dengan gedung kuliahnya.

"Kalau direlokasi, kami harus makan di Kafetaria yang harganya lebih mahal. Di sini (Kantin Bonbin, red), harganya terjangkau. Kalau direlokasi, kami juga sedih karena di sini tempat makan satu-satunya yang bisa beri kami hutangan, terutama di warung Yu Par," tutur Daru disusul tawa rekan-rekan yang lain. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved