OPINI

Setelah Media Cetak Kini Media Rekam, Selamat Datang di Tubir Senja

Peta persaingan toko album musik bertambah runyam dengan hadirnya file digital yang mudah diunduh siapa saja selama terhubung internet.

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: oda
net
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kapan kalian terakhir kali masuk ke toko compact disc (CD) untuk membeli rilisan fisik album musik? Atau bisa jadi terakhir membungkus album artis idola saat masih dirilis dalam bentuk kaset pita?

Green Day baru saja melaunching album long played keempat mereka Warning pada Oktober 2000. Di awal 2001 saya baru bisa membeli kasetnya di satu toko swalayan sebuah kota kecil di ujung utara Jawa Tengah.

Butuh tujuh tahun berselang untuk saya kembali membeli rilisan fisik album musik. CD band Holy City Rollers, adalah karya yang pada 2008 akhir saya tebus dari satu distribution outlet.

Tak terasa sewindu sudah itu semua berlalu. Tahun 2016 yang belum genap mengalami satu purnama ini diiringi 'kabar duka'.

Disc Tarra, jaringan terbesar toko rilisan fisik album musik dan film di Indonesia mengakhiri kiprah bisnisnya.

Detik.com menuliskan jika per 31 Desember 2015, Disc Tarra menutup seluruh outletnya di nusantara. Belum ada keterangan resmi terkait hal ini. Tapi revenue yang tidak sesuai dengan ongkos produksi, kemungkinan besar menjadi tersangka utama tandasnya suatu usaha.

Seminggu terakhir, tagar #senjakalamedia ramai berseliweran di linimassa. Diperbincangkan banyak kalangan, dari praktisi media massa, esais kondang, sampai ukhti-ukhti cantik pada diskusi pojok kampus.

Ini merujuk pada media cetak semakin terpinggirkan dengan perkembangan media online bahkan media sosial, yang semakin harmonis dengan era generasi digital native.

Tagar ini pun cukup relevan menggambarkan tutupnya Disc Tarra. Bahwa rilisan fisik media rekam juga semakin ditinggalkan penggemarnya.

Tentu saja file digital nan ringkas menjadi tujuan hijrah penikmat musik. Praktis bisa didengar di mana saja.

Tak perlu membawa pemutar kaset/CD portabel (Walkman/Discman) layaknya ABG kelahiran novel progresif George Orwell, 1984.

Bukankah hal ini sudah diprediksi sejak awal 1990 sampai awal 2000-an? Saat di mana membuncahnya amarah para seniman musik terhadap tak terkendalinya kaset dan CD bajakan yang dijual bebas di pasar, emper toko, sampai mal.

Memasuki milenium baru, peta persaingan toko album musik bertambah runyam dengan hadirnya file digital yang mudah diunduh siapa saja selama terhubung internet.

Belum dengan invasi Apple.inc dengan iPod dan iTunes-nya. Makin sekaratlah album-album musik berbentuk fisik.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved