Pedagang Awul-awul Sambat Omzet Turun

Waktunya pendek, jadi omzet yang kami dapatkan tak seberapa. Untuk balik modal aja susah, bisa dibilang rugi tahun ini

Pedagang Awul-awul Sambat Omzet Turun
Tribun Jogja/Khaerur Reza
Salah satu yang kerap menjadi buruan para pengunjung Sekaten adalah kios pakaian bekas layak pakai impor atau biasa disebut awul-awul. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ada yang berbeda dari Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) tahun 2015 ini.

Waktu perayaan Pasar Malam Sekaten hanya berlangsung selama 20 hari, dibanding tahun-tahun sebelumnya yang sampai dua bulan penuh.

Sebagian pedagang mengeluhkan waktu yang pendek ini berpengaruh kepada omzet penjualan mereka selama Sekaten.

Seperti yang dialami oleh Budi (55), salah seorang pedagang awul-awul atau baju bekas impor, mengeluhkan jumlah omzet yang sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya saat dia berjualan.

Budi mencatat, omzet penjualannya terhitung masih rugi.

Per malam, ia hanya mendapatkan sebesar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta, dari baju bekas yang dijualnya. Belum lagi untung yang didapatkan yang tak seberapa dibandingkan biaya modal per malam.

"Waktunya pendek, jadi omzet yang kami dapatkan tak seberapa. Untuk balik modal aja susah, bisa dibilang rugi tahun ini. Pengeluaran sudah banyak, untuk belanja baju, untuk hidupkan genset perlu delapan liter per malam, tetapi penjualan turun, ditambah waktu yang pendek," ujar Budi, Minggu (27/12).

Ungkap Budi, mengaku menyetok baju bekas atau awul sampai 12 bal (satu bal setara satu kuintal) seukuran satu pikap penuh untuk berjualan pada PMPS tahun 2015 ini.

Alih-alih mendapat untung, ternyata barang jualan yang dibawanya tak separuhnya laku.

Ia bercerita, baju bekas tersebut ia stok dari agen besar ataupun langsung diimpor dari luar negeri.

Mengejar penjualan, ia pun berani banting harga di hari-hari terakhir Sekaten, seharga paling murah Rp 500 perak sampai paling mahal Rp 75.000.

"Alih-alih dapat untung, barang jualannya aja masih banyak. Hari-hari terakhir kami langsung banting harga, jual baju 10.000 per enam potong, biar nanti tak tambah biaya untuk membawa kembali," ujar Budi. (tribunjogja.com)

Penulis: rfk
Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved