Legowo Setelah Pengumuman Hasil Pilkada

Tak ada gugatan hukum muncul dari para paslon yang kalah.

Legowo Setelah Pengumuman Hasil Pilkada
Dok pri
Syahrul Kirom MPhil, Peneliti/Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta

Wajarlah bila legowo tercermin secara eksplisit pada kata-kata mutiara "kegagalan adalah kemenangan yang tertunda". Jika disederhakana legowo dapat diartikan sebagai sikap menerima kekalahan dengan berjiwa besar.

Di samping itu, yang perlu kita ketahui bersama, jabatan dan kekuasaan adalah amanah dari Tuhan yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawabannya.

Memiliki jabatan dan kekuasaan bukan sesuatu yang empuk dan nyaman, karena di sana banyak tanggung jawab dan kewajiban yang harus dilakukan.

Ini kalau kita berbicara soal integritas dan kompetensi serta etika jabatan.

Berbeda dari para politikus yang memiliki nalar politis, pragmatis dan oportunis, bagi mereka kekuasaan adalah jabatan yang paling empuk dan nyaman, untuk mencari keuntungan sebanyak-banyak.

Paradigma inilah yang perlu direduksi oleh calon bupati dan wakil bupati yang menang dalam Pilkada tahun 2015.

Jabatan adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Dalam konteks filsafat, ontologi jabatan adalah bila pemimpin daerah ini bertindak dan berbuat yang secara esensial dari segala kebijakan dan program itu dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

Secara epistemologi jabatan, tentunya pemimpin harus memiliki sumber pengetahuan (knowledge) dari jabatan yang dipegangnya.

Bila mereka itu tidak mempunyai ilmu dari jabatan yang diamanahkan, maka akan hancurlah peradaban bangsa Indonesia.

Dengan demikian, perlu kita sadari secara bersama, memiliki jabatan sebagai bupati bukanlah sesuatu yang nyaman dan enak, dengan bergelimang popularitas.

Halaman
123
Editor: Ikrob Didik Irawan
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved