Huma Betang Ajarkan Kebersamaan, Perdamaian dan Menentang Kekerasan

Melalui pola-pola interaksi sosial Kalimantan Tengah dan Palangka Raya memiliki motto Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila Bhineka Tunggal Ika.

         YOGYA, TRIBUN - Interaksi sosial antara elite agama di Palangkaraya berpijak pada pola tertentu. Pola itu disebut pola interaksi solidaritas integratif yang ditandai dengan dengan beberapa nilai perekat antarelite agama. Nilai-nilai itu adalah Belom Bahadat, Adil Ka'talino,i Belom Penyang Simpei, Spiritualitas Pancasila. Melalui pola-pola interaksi sosial inilah Kalimantan Tengah dan Palangka Raya dikenal dengan motto Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila Bhineka Tunggal Ika.
         Sementara, faktor yang mempengaruhi interaksi sosial para elite agama di Palangka Raya antara lain agama, yang mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar, dimana tingkat pemahaman para elite agama dapat mempengaruhi interaksi para elite di lapangan.
          Demikian antara lain terungkap dalam riset yang dilakukan Abubakar H. Muhammad (60 tahun). Riset Disertasi putra kelahiran Bima, NTB berjudul "Interaksi Sosial Dalam Masyarakat Plural-Studi Tentang Hubungan Anter Elite Agama Di Palangka Raya Kalimantan Tengah" dipertahankan untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bertempat di Convention Hall, kampus setempat, kemarin.
         Menurut Abubakar, faktor sosial budaya yang disebut Huma Betang mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, persaudaraan, kekeluargaan, musyawarah dan mufakat, perdamaian dan menentang kekerasan.
          Ditemui setelah promosi terbuka, promovendus menjelaskan, interaksi yang harmonis antar elite agama di Palangka Raya berhasil menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai perbedaan di kalangan masyarakat dengan agama yang berbeda-beda. Di Palangka Raya ada Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) yang didalamnya aktif para elite dari berbagai agama yang berbeda. Mereka ini melalui program rutin dan berkala melakukan pembinaan kerukunan antar umat beragama, dengan tujuannya untuk mewujudkan harmonisasi lintas agama. Namun terkadang masih muncul konflik antar elite agama sendiri.
         Hal ini dipengaruhi oleh faktor dari luar, yang tidak sejalan dengan nilai-nilai budaya Huma Betang, yang dijunjung tinggi oleh para elite agama dan mesyarakat Palangka Raya, dan faktor pemahaman agama yang tidak proporsional yang memunculkan mis-komuniksi dalam memaknai sesuatu yang muncul di masyarakat Palangka Raya. "Jika muncul mis-komunikasi antar elite agama, agar tidak melebar ke masyarakat biasanya diselesaikan dengan menumbuhkan pemahaman yang kolaboratif sampai terwujud kembali kebersamaan dan hubungan yang kondusif," ujarnya.
          Di Palangka Raya juga tumbuh dan berkembang simbul simbul budaya, bahasa dan tempat-tempat ibadah yang tujuannya untuk memelihara kerukunan dan hormonisasi antar elite agama yang kemudian berkembang ke masyarakat antar pemeluk agama yang berbeda-beda. Simbul-simbul budaya diantaranya-Batang Garing, yang menggambarkan keseimbangan hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta dan manusia dengan Sang Pencipta.
          Simbul Betang, menggambarkan filosofi masyarakat multikultural, yang menghargai perbedaan, kejujuran, kebersamaan dan toleransi, kemandirian, persaudaraan dan kekeluargaan, serta musyawarah-mufakat.
Simbul Isen Mulang menggambarkan kecerdasan dan keuletan. Simbul Belom Bahadat menggambarkan tatakrama, sopan-santun, menghargai profesionalisme dan memelihara moralitas. Simbul-simbul bahasa, untuk menumbuhkan kebersamaan, misalnya, Adil Ka'talino, Bacuramin Ka'saruga, Basingat Ka'jubata, artinya salam sejahtera dan damai selalu. Tabe Salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang, artinya: selamat bertemu semoga dalam keadaan bahagia. Simbul-simbul rumah ibadah. Misalnya untuk menumbuhkan kerukunan dan kebersamaan, tempat-tempat ibadah dibangun dalam s atu kompleks yang berdekatan.
          "Cara ini ternyata efektif. Masyarakat pemeluk agama berbeda bisa melakukan ibadah di tempat ibadah masing-masing tanpa menimbulkan konflik. Justru menciptakan kebersamaan dan harmonisasi. Disamping itu para elite agama di Palangka Raya saling proaktif membangun harmonisasi melalui dialog kemanusiaan dan dialog iman dan terbuka saling mengingatkan jika terjadi pelanggaran terhadap batas-batas yang harus dipelihara bersama," katanya. (bm)

Penulis: baskoro
Editor: baskoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved