Citizen Journalism

Mahasiswi PGSD UST Ini Tak Mau Jadi Mahasiswi Kupu-kupu

Pada zaman sekarang, kabar tentang anak kuliah mencari pekerjaan sampingan tidak awam lagi kita dengar.

Mahasiswi PGSD UST Ini Tak Mau Jadi Mahasiswi Kupu-kupu
ist
Alvin Widiastuti 

Alvin Widiastuti
Mahasiswi Prodi PGSD UST

TRIBUNJOGJA.COM - Pada zaman sekarang, kabar tentang anak kuliah mencari pekerjaan sampingan tidak awam lagi kita dengar.

Melihat kebutuhan ekonomi anak kuliah, apalagi anak kos, yang begitu besar, seharusnya kita selaku mahasiswa juga meniru hal tersebut. Termasuk, meniru Ida Fransiska.

Ida merupakan salah satu mahasiswi Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Karena tidak mengikuti kegiatan organisasi di kampus, ia pun mengalami kejenuhan saat kuliah.

Ia mengaku hidupnya kurang menantang karena hanya "kuliah pulang-kuliah pulang" (kupu-kupu). Ida menginginkan suatu kesibukan atau kegiatan yang menunjang pendidikannya.

Sampai pada pertengahan Oktober 2015, Ida memperoleh tawaran untuk mengajar di Bimbingan Belajar (Bimbel) As TYLYV.

Bimbel tersebut dididirikan oleh Ibu Asti, dan terletak di Kelurahan Minggiran, Mantrijeron No 1473.

Selang satu minggu, ia menerima tawaran dari Ibu Asti, dan dimandati untuk mengajar dua orang anak, dengan jadwal satu minggu tiga kali pertemuan dalam kurun waktu satu jam tatap muka.

Saat ini ia mengajar enam anak SD, dengan upah Rp250.000 per bulan.

Ida mengakui bahwa menjalani kegiatan tersebut di waktu luang kuliah, susah-susah gampang. Karena, bila ada tugas kelompok dan pengerjaan tugas tersebut berbarengan dengan jadwal untuk mengajar bimbel, membuat dia merasa sungkan terhadap teman sekelompoknya.

Apa lagi saat ini musim hujan, dan muncul rasa malas untuk tidak mengajar.

Adapun kesulitan khusus yang dialaminya adalah, Ida tidak dapat pulang ke rumah orangtua di Karangnongko, Gabugan RT03 RW 01, Tanon, Kabupaten Sragen, Jateng, saat libur beberapa hari karena mengajar bimbel.

Namun, walaupun mengalami keterbatasan dengan jarak, waktu, dan tenaga, Ida tetap berpegang teguh dan penuh semangat menjalani tanggung jawabnya untuk menularkan ilmu-ilmunya.

Berbekal kesabaran dan ketekunan serta tanggung jawab yang amanah, diharapkan kita dapat termotivasi untuk mengisi waktu luang kuliah dengan kegiatan yang positif, dan hasilnya pun dapat mengurangi beban orangtua.

Tentu saja tanpa meninggalkan kewajiban sebagai mahasiswa untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. (*)

Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved