Menyusuri Jalan Setapak Menuju Candi Tertua di Jawa Tengah
Candi Gunung Wukir merupakan candi Hindu yang ditandai dengan adanya Yoni dan arca Nandi
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Mona Kriesdinar
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Tohari
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Magelang tidak hanya memiliki candi Borobudur dan Mendut semata. Terdapat sejumlah candi lainnya yang tersebar di kabupaten tersebut, dan salah satunya adalah Candi Gunung Wukir.
Sesuai dengan namanya, candi ini terletak di bukit Wukir yang oleh masyarakat sekitarnya dikenal dengan nama Gunung Wukir. Secara administratif Candi Gunung Wukir berada di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Candi ini berada di tengahnya rerimbunan vegetasi yang masih menyelimuti bukit Gunung Wukir. Untuk mencapai lokasinya diperlukan perjuangan ekstra karena belum adanya akses jalan.
Bagi siapa saja yang ingin mencapai candi tersebut diperlukan upaya ekstra karena harus melewati jalan setapak yang masih berupa tanah. Anda akan melewati perkebunan rakyat dan semak untuk menaiki bukit dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut tersebut.

Candi Gunung Wukir (TRIBUNJOGJA.com | Dwi Nourma Handito)
Candi Gunung Wukir merupakan candi Hindu yang ditandai dengan adanya Yoni dan arca Nandi. Yoni bersama sebuah Lingga adalah sebagai lambang dewa Siwa. Namun Lingga dimaksud sekarang tidak ada lagi. Sedangkan arca Nandi (lembu) adalah kendaraannya.
Berdasarkan data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Gunung Wukir terdiri dari tiga candi. Candi Utama dengan tiga candi di depannya. Yoni tersebut terletak di candi Utama, arca Nandi terletak pada candi di depannya atau pada candi Wahana.

Candi Gunung Wukir (TRIBUNJOGJA.com | Dwi Nourma Handito)
Formasi demikian ditemukan juga di kompleks candi Prambanan. Namun demikian candi- candi ini belum dapat dipugar karena batu-batu aslinya belum dapat di temukan.
Hal yang menarik dari Gunung Wukir adalah di candi ini dahulu pernah ditemukan sebuah prasasti yang dikenal dengan prasasti Canggal yang berangka tahun 732 M, bertuliskan Sansekerta serta berbahasa Pallawa. Jika merujuk pada prasasti tersebut candi ini merupakan candi tertua yang dibangun oleh Raja Sanjaya.

Candi Gunung Wukir (TRIBUNJOGJA.com | Dwi Nourma Handito)
Masih berdasarkan data dari BPCB Jawa Tengah pada prasasti itu disebutkan tentang raja Sanjaya yang gagah berani dan berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Ia adalah pengganti pamannya yaitu raja Sanna yang gugur di medan perang. Atas keberhasilannya itu ia kemudian mendirikan sebuah Lingga di atas sebuah bukit.
Kemungkinan lokasi yang dimaksud adalah di candi ini. Raja Sanjaya yang juga dikenal sebagai Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah anggota dinasti Sailendra yang pernah menguasai Jawa Tengah dengan kerajaannya bernama Mataram (Hindu). Adapun pendiri dinasti ini adalah Dapunta Selendra.
Raja-raja terkenal dari dinasti ini ialah Sri Maharaja Rakai Panangkaran yang diduga mendirikan candi Borobudur, Mendut, dan Sewu yang semuanya adalah candi Budha. Selain itu juga Sri Maharaja Rakai Pikatan yang telah mendirikan candi Prambanan (Hindu) dan beberapa candi di Plaosan (Budha) .Raja-raja dari dinasti ini pada umumnya memeluk agama yang tidak sama. Satu raja beragama Budha, tetapi penggantinya beragama Hindu. Sehingga banyak ditemukan candi Budha yang berdekatan dengan candi Hindu. Hal tersebut menggambarkan toleransi agama telah berkembang di Jawa Tengah sejak masa itu.

Candi Gunung Wukir (TRIBUNJOGJA.com | Dwi Nourma Handito)
Untuk menuju situs ini, bisa melewati jalan Jogja-Magelang, kemudian belok ke kiri di pertigaan Semen. Selanjutnya mengikuti jalan Semen-Ngluwar sekitar 2 km, maka akan terlihat papan petunjuk arah menuju Candi Gunung Wukir.
Anda tidak akan dipungut biaya untuk memasuki area candi ini. Jika anda membawa kendaraan pribadi, belum ada area parkirnya, jadi kendaraan dititipkan di rumah warga.(TRIBUNJOGJA.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/candi-gunung-wukir_1312_1_20151213_152925.jpg)