Mahasiswa PGSD UST Senang Memakai Batik

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sarjanawisata Tamansiswa (UST) Yogyakarta mempunyai ciri khas batik.

Editor: Muhammad Fatoni
tribunjogja/padhangpranoto
Batik Sojiwan, sebuah kreasi anyar dari warga sekitar yang mengambil inspirasi dari relief-relief yang terpahat di candi tersebut. Kini sudah ada tujuh motif yang bercorak khas pahatan Candi Sojiwan. 

Berta Nitasari
Mahasiswi PGSD Universitas Sarjanawisata Tamansiswa

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sarjanawisata Tamansiswa (UST) Yogyakarta mempunyai ciri khas batik.

Kenapa harus batik, bukan yang lain? Karena batik merupakan kekayaan Indonesia yang harus dilestarikan.

Menurut sejarahnya batik pernah diklaim oleh negara lain yang menimbulkan pertikaian kedua negara. Oleh karena itu genarasi muda harus memiliki sifat nasionalisme yang dapat dibuktikan denga rasa cinta terhadap budaya batik dan mau melestarikannya.

Usaha pemerintah untuk melestarikan budaya batik telah dilaksanakan mulai tanggal 2 Oktober 2009, bertepatan dengan pengakuan batik oleh UNESCO sebagai budaya Tak Benda Warisan Manusia (Representative List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity).

Pemerintah juga memberlakukan penggunaan seragam batik mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA yang kemudian selalu diperingati dengan Hari Batik Nasional.

Penggunaan seragam batik tersebut tidak terlepas dari upaya melestarikan budaya batik milik Indonesia yang diakui dunia. Selain itu, dengan menggunakan seragam batik dapat menanamkan nila-nilai kebudayaan.

Batik pun seakan telah membius mahasiswa UST, terutama jurusan PGSD UST. Tanpa dipaksa, mahasiswa PGSD UST dengan senang hati membeli dan mengenakannya.

Sebagai contoh kelas 3A yang selalu mengenakan batik pada hari Senin. Tidak hanya kelas 3A saja yang mempunyai seragam batik akan tetapi semua kelas dari semester rendah hingga semester akhir juga memilikinya.

Mereka tanpa harus disuruh atau diwajibkan oleh universitas, telah berinisiatif untuk melestarikan budaya batik.

Hal itu mencerminkan mahasiswa PGSD UST, yang merupakan calon pendidik pada jenjang pendidikan sekolah dasar, telah mengamalkan salah satu pandangan hidup Ki Hajar Dewantara yang menjadi semboyan Tamansiswa yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, atau di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved