Dokter Gigi Residen Anak UGM Beri Layanan Periksa Gigi Gratis pada ABK

Sejumlah dokter gigi residen spesialis gigi anak UGM memberikan pelayanan pemeriksaan gigi gratis kepada para siswa berkebutuhan khusus.

Dokter Gigi Residen Anak UGM Beri Layanan Periksa Gigi Gratis pada ABK
Tribun Jogja/ Khaerur Reza
Sejumlah dokter gigi residen spesialis gigi anak UGM memberikan pelayanan pemeriksaan gigi gratis kepada para siswa berkebutuhan khusus, Kamis (19/11/2015) di SLBN 1 Bantul. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Khaerur Reza

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dalam rangka pengabdian masyarakat, sejumlah dokter gigi residen spesialis gigi anak UGM memberikan pelayanan pemeriksaan gigi gratis kepada para anak berkebutuhan khusus (ABK).

Dalam acara yang digelar Kamis (19/11/2015) di SLBN 1 Bantul yang ada di Jl Wates Kasihan Bantul, 7 orang dokter gigi bergantian memeriksa kesehatan gigi para siswa dari sekolah tersebut.

Salah seorang dokter residen, drg Andizandy Narwidina, mengatakan bahwa masih banyak anak berkebutuhan khusus yang memiliki masalah dengan kesehatan gigi.

"Di SLB seperti ini kan ada bermacam jenis anak dengan tipe kebutuhan yang spesifik, misalnya down sindrom kan kesadarannya belum baik dari perilaku motorik yang susah membersihkan gigi sendiri terutama yang di ujung-ujung," jelasnya.

Karenanya memang dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan khusus untuk menjaga kebersihan gigi anak-anak berkebutuhan khusus.

Padahal kebersihan gigi sangat penting karena akan menyangkut kesehatan gigi yang nantinya akan berpengaruh pada kesehatan badan secara umum.

Acara ini sendiri merupakan agenda rutin dari para dokter residen yang selain digunakan sebagai pengabdian masyarakat juga agar para dokter nantinya ketika terjun ke masyarakat siap menghadapi berbagai macam persoalan.

"Karena nantinya kita akan dituntut untuk memberikan pelayanan terbaik bukan hanya untuk anak biasa tapi juga anak berkebutuhan khusus," ujarnya.

Selain masalah kebersihan komunikasi juga menjadi kesulitan lain yang dihadapinya ketika menghadapi dengan kebutuhan khusus.

"Memang susahnya di bahasa, karena kadang kita untuk berkomunikasi juga harus pakai bahasa isyarat. Tapi syukurlah tadi kita bisa melakukannya dengan lancar," tambahnya. (*)

Penulis: khr
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved