Situasi Ekonomi 2015 Bingungkan Industri Otomotif

Situasi perekonomian nasional pada 2015 ini masih belum menentu, membuat pelaku usaha cenderung wait and see.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Situasi perekonomian nasional pada 2015 ini masih belum menentu, membuat pelaku usaha cenderung wait and see.

Hal itu berimbas pada penjualan armada komersial Isuzu yang mau tidak mau terbawa gejolak koreksi pasar hingga 10 persen. Namun demikian, Isuzu khususnya Isuzu DIY dan Jateng optimis pada 2015 pasar bisa lebih baik.

Kepala Wilayah Isuzu Jateng dan DIY, Ratmin Sucipto menjelaskan, optimisme sebenarnya menyeruak pada akhir 2014. Positifnya pasar pada 2014 membuat pihaknya menatap 2015 dengan target tinggi.

"Namun ternyata situasinya tidak seperti yang kami harapkan. Target secara keseluruhan malah terkoreksi sekitar 40 persen. Namun demikian di Isuzu hanya terkoreksi sekitar 10 persen," katanya ditemui di diler Isuzu Yogyakarta, Senin (16/11/2015) petang.

Untuk wilayah DIY sendiri menurutnya penurunan cukup terasa. Misalnya saja pada 2014 per bulannya armada light truck bisa terjual hingga 110 unit per bulan.

Pada 2015 ini rata-rata hanya 80an unit per bulan. Lini produk yang stabil hanya SUV yang memang sedang naik daun.

Menurut Cipto, pelaku industri otomotif bingung menghadapi situasi ekonomi yang sulit diperkirakan. Penyebab signifikan kondisi ekonomi saat ini belum juga ditemui. Hal inilah yang menyulitkan pelaku industri untuk meraba arah pasar.

"Kebingungan ini memicu konsumen utama armada komersial yakni para pengusaha untuk cenderung wait and see. Mereka banyak melakukan penundaan pembelian," ungkapnya.

Namun demikian, melihat arah ekonomi saat ini, menurut Cipto, pihaknya optimis pasar pada 2016 bisa mulai membaik. Terlebih, pemerintah mulai terlihat menggenjot sektor infrastruktur yang tentunya membutuhkan banyak armada komersial.

Apabila di sisi penjualan ada koreksi, namun di sisi aftersales menurut Cipto malah sebaliknya. Penundaan pembelian armada baru membuat pengusaha mengoptimalkan armada yang ada.

Satu cara yang ditempuh adalah tingginya minat untuk melakukan perawatan maupun penggantian suku cadang.

"Untuk aftersales malah ada pertumbuhan hingga 10 persen, baik perawatan maupun suku cadang juga tumbuh. Bisa saja pengusaha memang mengerem pembelian dan mengoptimalkan perawatan," paparnya.

Menghadapi akhir tahun, lanjutnya, optimisme juga mulai naik. Hal itu diindikasikan penjualan pada September-Oktober yang mulai tumbuh kembali. Hal ini dipicu mulai adanya pembelanjaan dari pemerintah untuk kendaraan operasional.

"Proyeksi kami di akhir tahun, based on dealer sekitar 2000 unit untuk 2015. Baik porsi dari Astra maupun dealer bisa merata, sama-sama sekitar 1.000 unit," pungkasnya. (tribunjogja.com)

Penulis: toa
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved