Breaking News:

Serangan Berdarah di Paris

Warga di Paris Tegang, Pantau Perkembangan Berita Teror

Tegang mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan suasana di Paris, Sabtu (14/11/2015) pagi. Hal itu disampaikan Anny Rahimah Arman.

Editor: oda
AFP
Tim medis Perancis bergegas mengevakuasi warga dari sebuah restoran yang berada tak jauh dari lokasi penembakan, Jumat (13/11/2015). (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, PARIS - Tegang mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan suasana di Paris, Sabtu (14/11/2015) pagi. Hal itu disampaikan Anny Rahimah Arman, warga Makassar yang tinggal di Paris.

Efek serangan di setidaknya tujuh titik kota di radius 5 hingga 10 km dari Menara Eifel ini, menegangkan.
Pukul 06.00 pagi waktu Paris, pemerintah mengumumkan Darurat Kota.

Hampir semua siaran radio, TV, media online disini, memberitakan kejadian teror sekitar pukul 11.00, waktu Paris (06.00 WITA), Jumat (13/11/2015). Warga diminta untuk tidak berada di luar rumah, atau apartemen.

“Ini pertama kali saya merasakan ketegangan seperti ini. Semua orang lebih banyak memilih berada di dalam rumah atau apartemen. Jalan-jalan kompleks perumahan sepi,” ucap Anny, Sabtu (14/11/2015).

Sebelum pagi, News TV, sudah mengumumkan sudah 11 stasiun Metro (angkutan kereta/trem dalam kota) dan 8 stasiun bus ke arah Paris Center ditutup.

Semua sekolah diliburkan. Bus sekolah tak beroperasi, Ini instruksi pemerintah. Student trip (wisata siswa, red), yang biasanya ramai di akhir pekan, untuk masuk ke pusat kota, juga dibatalkan.

Musim dingin, baru dimulai di Eropa. Perancis, suhunya antara 10 hingga 12 derajat celcius. Meski sudah pagi, tapi awan masih menutupi sebagian wilayah, makanya agak gelap.

“Suami saya yang kerja sebagai polisi di bandar, pulang jam 06.00 pagi tadi, juga lebih banyak di depan TV, memantau kondisi terakhir di Paris Center,” tutur Anny yang tinggal di sekitar bandara Orly, Paros, daerah Villeneuve-le-Roi.

Meski kondisi tegang, namun beberapa kantor, jasa layanan publik, dan perkantoran yang mengandalkan jasa, tetap buka.

“Pagi ini saya juga tetap ke tempat kerja. Andaikan saya masih kerja di kawasan Paris Center, saya tentu tak masuk kerja. Tiga minggu lalu, saya pindah kerja di di kawasan perkantoran radius 20 menit dari rumah,” jelasnya.

Akses Metro ke pusat kota, sebagian besar ditutup. Padahal, hampir 70 persen warga Paris, mengandalkan Metro, sebagai angkutan publik.

“Di jalan-jalan, di akhir pekan ini, memang agak berbeda. lebih lengang, tapi warga tetap beraktivitas,” pungkas Anny. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved