Jack, Babun Cerdas yang Bekerja Jadi Juru Sinyal Kereta Api

Babun tersebut milik James "Pelompat" Wide yang bekerja sebagai juru sinyal sebelum dia kehilangan kedua kakinya dalam suatu kecelakaan.

Tayang:
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: oda
en.wikipedia.org
Juru sinyal yang mengoperasikan tuas kendali sinyal di menara kendali adalah seekor babun bernama Jack. Jack adalah seorang pegawai perusahaan kereta api tersebut. Babun tersebut milik James Pelompat Wide yang bekerja sebagai juru sinyal sebelum dia kehilangan kedua kakinya dalam suatu kecelakaan. 

TRIBUNJOGJA.COM, PORT ELIZABETH - Di Indonesia, primata merupakan keluarga hewan yang telah familiar dipekerjakan membantu manusia.

Mulai dari menjadi pemetik kelapa hingga menjadi penghibur di topeng monyet, primata dekat dengan keseharian manusia. Namun apa jadinya bila primata dipekerjakan di perusahaan kereta api?

Bekerja di perusahaan kereta api, terutama yang berhubungan langsung dengan pengoperasian kereta tentunya menuntut tenaga yang cermat dan berkonsentrasi tinggi.

Namun, ternyata bukan hanya manusia yang bisa mengerjakannya. Bahkan, seekor babun alias kera besar dari Afrika tercatat dalam sejarah pernah bekerja sebagai juru sinyal!

Kejadian unik nan langka ini terjadi pada akhir abad ke-19 di Afrika Selatan. Pada saat itu para pengelana yang menuju ke Cape Town di sepanjang jalur rel utama Port Elizabeth sering melihat sesuatu yang mencurigakan ketika mereka masuk ke stasiun.

Juru sinyal yang mengoperasikan tuas kendali sinyal di menara kendali adalah seekor babun bernama Jack.

Walaupun nampaknya aneh, namun dikutip dari knoxvilledailysun.com, Jack adalah seorang pegawai perusahaan kereta api tersebut.

Babun tersebut milik James "Pelompat" Wide yang bekerja sebagai juru sinyal sebelum dia kehilangan kedua kakinya dalam suatu kecelakaan.

Wide sendiri mendapatkan gelar "Pelompat" karena kebiasaannya melompat dari satu kereta ke kereta yang lain.

Seringkali, Wide bahkan berayun di sela antara dua kereta. Suatu siang pada 1877, dia mencoba melompat namun jatuh ke bagian bawah kereta yang sedang berjalan. Roda kereta yang tajam dan masif menimbulkan luka berat di kedua kakinya.

Hidup Si Pelompat kemudian hancur akibat kejadian itu. Dia tidak hanya kehilangan kedua kakinya, namun dia juga tidak bisa lagi bekerja di lapangan. Si Pelompat kemudian dipekerjakan sebagai juru sinyal di stasiun Uitenhage.

Kemudian, Wide membuat sepasang kaki palsu dari kayu yang dipahatnya sendiri. Dia juga membuat troli kecil yang dipakainya untuk beraktivitas di luar. Namun, tetap saja Wide memiliki keterbatasan dalam segala yang dilakukannya.

Empat tahun kemudian, suatu siang Wide sedang berkunjung ke keramaian ketika dia melihat seekor babun mengendalikan satu gerobak sapi. Dia menemui pemilik yang kemudian menunjukkan betapa cerdasnya primata tersebut.

Segera saja, Wide yakin bahwa babun itu dapat membantunya. Dia memohon si pemilik agar mengijinkan si babun menjadi miliknya.

Si pemilik sebenarnya tidak ingin menyerahkan binatang kesayangannya itu, namun dia berbelas kasihan akan Wide yang cacat.

Si pemilik kemudian memberikan babun tersebut kepada Wide dan dimulailah satu persahabatan yang paling tidak biasa dalam sejarah perkeretaapian.

Wide dan si babun kemudian tinggal di satu pondok kecil sekitar setengah mil dari dipo kereta. Setiap pagi Jack akan mendorong Wide di atas troli untuk bekerja.

Jack akan mendorong troli tersebut mendaki bukit dan sesampainya di puncak, Jack akan melompat ke atas troli untuk bersenang-senang ketika troli tersebut meluncur menuruni bukit

Ketika Wide bekerja, pada awalnya Jack dipekerjakan merawat taman stasiun. Namun primata tersebut sesekali mengamati ketika Wide bekerja. Ketika itulah, Wide menyadari kelebihan lain dari sang babun.

Suatu kali, Wide bertugas menyimpan berbagai macam kunci di rumah sinyal di stasiun yang membuka titik yang memungkinkan masinis atau mekanik untuk mencapai gudang batubara.

Ketika seorang masinis memerlukan batubara, sang masinis akan membunyikan klakson lokomotifnya sebanyak empat kali dan Wide akan berjalan terpincang-pincang bersama kruknya dan memberikan kunci gudang batubara kepada Jack yang kemudian memberikannya kepada sang masinis.

Pada awalnya, begitulah Jack akan bekerja hingga pada suatu hari Wide menyadari bahwa sang babun juga mampu mengoperasikan sinyal kereta.

Jack mempelajari setiap tuas sinyal beserta namanya dan mampu mendorongnya ke posisinya ketika satu kereta menjelang masuk ke stasiun Uitenhage.

Wide akan mengacungkan satu atau dua jarinya (sebagai tanda untuk sang babun) dan Jack kemudian akan menarik tuas yang benar.

Pada akhirnya, Jack tidak lagi memerlukan perintah dari tuannya. Babun itu tahu setiap tuas yang harus dioperasikan untuk setiap kereta yang mendekat.

Walaupun sang babun selalu dalam pengawasan tuannya, Jack tidak pernah membuat kesalahan atau perlu diperintah dua kali.

Hubungan kerja antara Wide dan Jack berjalan baik dan keduanya menjalin persahabatan erat. Banyak penduduk lokal akan pergi ke jalur rel untuk mencari tahu apakah cerita mengenai seekor babun yang bekerja di persinyalan perkeretaapian nyata adanya. Banyak orang terheran-heran dengan betapa lancarnya Jack melakukan pekerjaannya.

Namun, pada suatu hari, seorang bangsawan perempuan yang sedang dalam perjalanan ke Port Elizabeth mengamati Jack yang sedang bekerja dan merasa ngeri pada bagaimana si babun mengoperasikan persinyalan.

Si bangsawan kemudian memberitahu pejabat perkeretaapian yang tidak menyadari bahwa asisten si juru sinyal adalah seekor kera.

Pada awalnya mereka tidak memercayai cerita sang bangsawan sampai manajer sistem kereta api dan banyak pejabat lain mengunjungi stasiun. Wide dan asistennya kemudian dipecat.

Wide memohon agar ia tidak kehilangan pekerjaannya dan sang manajer setuju untuk menguji kemampuan Jack. Seorang masinis kemudian diinstruksikan untuk membunyikan klakson lokomotifnya yang memberi tanda agar Jack mengoperasikan sinyal yang benar. Jack menjalankan tugasnya dengan sukses.

Sang babun bahkan memperhatikan kondisi sekeliling ke arah kereta yang bersiap masuk ke stasiun untuk memastikan bahwa tuas yang benar dan sinyal yang tepat telah dioperasikan.

Jack juga berhasil melewati tes bendera sehingga manajer sistem perkeretaapian sangat terkesan dan mengembalikan pekerjaan Wide dan bahkan mempekerjakan Jack.

Jadilah sang babun satu-satunya babun dalam sejarah yang bekerja di kereta api. Mulai hari itu dan seterusnya, Jack dikenal sebagai Jack si Juru Sinyal. Untuk pekerjaannya, Jack dibayar sebanyak 20 sen seminggu beserta setengah botol bir. Selain itu dia juga menerima nomor pegawai.

Ketika tinggal di pondok Wide, Jack belajar untuk melakukan pekerjaan lain misalnya membuang sampah dan menyapu lantai dapur.

Dia juga kemudian dikenal sebagai penjaga yang baik. Tamu tak diundang akan disambut oleh penjaga galak yang mengertakkan giginya dan menggeram untuk menakuti tamu yang tak diundang.

Demikianlah bekerja untuk Wide dan perusahaan kereta api hingga ia mati sembilan tahun kemudian. Tuberkulosis menjadi penyebab kematian primata cerdas tersebut.

Tengkorak si babun cerdas kemudian disimpan di Albany Museum di Grahamstown.

Kisah Jack si babun cerdas ini digambarkan dalam koran The Telegraph pada 11 November 1990. Cerita lebih rinci mengenai Jack termuat dalam jurnal ilmiah Nature yang terbit pada 24 Juli 1890.

Kisah tak biasa ini juga membuat Jack bahkan memiliki halaman Wikipedianya sendiri saat ini. (techly.com.au/knoxvilledailysun.com/hoaxorfact.com/en.wikipedia.org)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved