Penyaluran Kru Kapal Ikut Atasi Pengangguran
Setiap tahunnya, permintaan akan tenaga kerja utamanya kru untuk kapal pesiar terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kapal pesiar.
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Setiap tahunnya, permintaan akan tenaga kerja utamanya kru untuk kapal pesiar terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kapal pesiar.
Penyaluran menjadi kru kapal pesiar internasional bisa menjadi solusi alternatif mengatasi pengangguran di Indonesia.
Untuk itu, pemerintah diharapkan bisa memberikan perhatian lebih kepada Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) perhotelan dan kapal pesiar internasional.
Direktur Lembaga Pendidikan Pelatihan dan Keterampilan (LP2KP) Perhotelan dan Kapal Pesiar Sun Marino Indonesia, Aryanto mengatakan, saat ini 100 persen produk LPK perhotelan dan kapal pesiar tersalurkan menjadi kru kapal pesiar.
“Harusnya pemerintah itu memberikan perhatian lebih kepada LPK perhotelan dan kapal Pesiar Internasional,” kata Aryanto dalam keterangannya di sela mendampingi anak didiknya mengikuti interview recruitment kru kapal pesiar internasional di Hotel UNY Yogyakarta, Sabtu (5/9/2015).
Aryanto menjelaskan, kru kapal pesiar merupakan tenaga kerja terdidik, terampil dan professional dengan standar gaji internasional.
Yang lebih penting juga, kata dia, menjadi crew kapal pesiar itu diikat dengan perjanjian Collective Bargaining Agreement (CBA) atau perjanjian hukum tertulis antara pemilik kapal, kru dan international transportation federal (ITF) dan sekarang juga dengan BNP2TKI.
“Gaji kru bisa sampai US$ 3.000. Pada awalnya saja minimal US$ 500. Ada tips and service dan bonus lainnya. Jenjang karier jelas hingga manager. Serta mendapat asuransi kesehatan, jaminan keselamatan kerja serta asuransi kematian yang tinggi. Ini sangat berbeda dengan TKI biasa. Karena itu, harusnya pemerintah mendukung sekali,” tegasnya.
Pernyataan tersebut diamini Paulus G Heminotis, Director & CEO PT Dewata Marine Indonesia (Demarin), manning agency penyalur crew kapal pesiar dari Bali.
Paulus mengatakan, tiap bulan minimal dibutuhkan 1.000 orang kru kapal pesiar untuk satu perusahaan kapal pesiar internasional. Sementara jumlah perusahaan kapal pesiar internasional lebih dari 20 perusahaan.
“Belum lagi river cruise (kapal pesiar sungai) di Eropa dan Amerika yang jumlahnya lebih dari 15 perusahaan,” imbuhnya.
Paulus mengungkapkan, kru kapal pesiar merupakan pekerjaan terhormat karena memiliki profesionalisme, keahlian, keterampilan dan pengetahuan sehingga wajar kalau penghargaan terhadap kru juga tinggi.
Di Filipina misalnya, lanjut dia, pemerintah menaruh perhatian besar warganya untuk bekerja sebagai kru kapal pesiar karena terbukti menyumpang devisa besar bagi negara.
“Ini fakta. Kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Filipina sebagian besar dari pekerjaan kru kapal pesiar. Ini kan baik. Harusnya Pemerintah Indonesia itu mengikuti langkah Pemerintah Filipina dengan support all out warganya menjadi crew kapal pesiar,” ujarnya.
Sementara dalam interview seleksi kru kapal pesiar di Hotel UNY Yogyakarta, pada Sabtu siang, PT Demarin menyeleksi 250 orang dari berbagai LPK dan Kampus Perhotelan Pariwisata di wilayah DIY-Jateng.
Dari jumlah tersebut, 75 persen masuk kualifikasi kru kapal pesiar dan mengikuti seleksi lanjutan yaitu interview dengan user Kapal Pesiar yang diperkirakan pada November 2015.
“Yang 25 persen bukan berarti ditolak namun harus belajar bahasa Inggris lagi, nanti kalau sudah mampu juga akan mengikuti seleksi lanjutan,” tutup Paulus. (tribunjogja.com)
Makan siang di kantor? Delivery makanan area Jogja aja, klik makandiantar.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kapal-pesiar_0406_5_20150604_152406.jpg)