Sumur Renteng Bisa Jadi Solusi Petani di Pesisir Gunungkidul
Berbekal ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, mereka menciptakan teknologi sederhana berupa sumur renteng untuk pengairan lahan
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Banyaknya lahan pertanian di Desa Kemadang yang dibiarkan selama musim kemarau, menarik perhatian bagi sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang tengah melaksanan kuliah kerja nyata ( KKN) di Desa Kemadang untuk berinovasi.
Berbekal ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, mereka menciptakan teknologi sederhana berupa sumur renteng untuk pengairan lahan.
Sumur renteng adalah teknologi mengalirkan air dari sumber dengan memanfaatkan mesin pompa sehingga memudahkan para petani untuk mendapatkan air. Sebagai sumber listrik untuk menghidupkan mesin pompa, digunakan mesin genset yang mudah untuk dibawa.
Air dari dalam sumur yang disedot kemudian dialirkan ke dalam bak penampungan yang terbuat dari terpal. Kemudian para petani bisa dengan mudah mengambil air guna keperluan untuk menanam aneka tanaman sayuran.
Selain dialirkan ke bak penampungan, air yang disedot dari dalam sumur juga langsung disiramkan ke lahan dengan menggunakan springkler. Dengan bantuan alat penyiram ini, para petani yang menanam sayuran semisal sawi atau bawang merah tidak perlu repot-repot menggunakan gembor untuk menyiram tanamannya.
Salah seorang penggagas teknologi sumur renteng, Karina Inassyiva Rosmala mengaku ide menerapkan teknologi sumur renteng ini muncul karena melihat banyaknya lahan pertanian yang dibiarkan begitu saja saat musim kemarau. Warga memilih membiarkan lahannya begitu saja tanpa ditanami karena tidak adanya air untuk menyiram tanamannya.
Setelah melakukan kajian sekitar satu bulan, akhirnya dirinya bersama rekan-rekannya yang melaksanakan KKN di Dusun Ngepung menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan yang selama ini dihadapi oleh para petani.
“Padahal potensinya cukup besar, tapi warga memilih untuk tidak mengolah lahannya karena memang tidak ada air. Itulah yang mendasari kami menerapkan inovasi sumur renteng ini,” katanya saat ditemui di sela-sela melakukan ujicoba teknologi sumur renteng di bulak Ngrawe, Rabu (26/8/2015).
Mahasiswa jurusan pertanian ini mengaku, teknologi sumur renteng yang dikembangkan ini cukup efektif untuk membantu para petani. Hanya saja, untuk bisa menerapkan teknologi ini memang diperlukan sumber air yang debitnya cukup besar.
Dari sebuah sumur renteng, menurut Karina bisa digunakan untuk mengairi lahan dengan luas sekitar dua hektare.
“Teknologi sumur renteng ini cocok untuk budidaya sayuran, semangka, melon,” ucapnya. (*)
Delivery Makanan Jogja? Klik makandiantar.com atau 0274 554 554. Ongkir Gratis !