Reuni Bisa Jadi Ajang Berbagi
Kini reuni sudah menjadi suatu kegiatan tahunan atau dua tahunan sekali yang cenderung memiliki hukum "wajib" digelar bagi mereka yang merantau
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM - Salah satu yang dinantikan ketika libur Lebaran tiba adalah bisa reuni atau berkumpul kembali bersama keluarga dan orang-orang yang pernah menghisasi perjalanan hidup.
Entah itu rekan sekantor dulu, teman semasa kuliah, SMA, SMP, bahkan teman ketika SD.
Momen libur panjang lebaran seperti saat ini memang kerap dimanfaatkan untuk menggelar acara reuni, ajang silaturahmi, bertemu kembali untuk sekedar melepas kerinduan, berbagi cerita dan pengalaman hidup.
Kini reuni sudah menjadi suatu kegiatan tahunan atau dua tahunan sekali yang cenderung memiliki hukum "wajib" digelar bagi mereka yang merantau meninggalkan kampung halamannya.
Acara reunipun tak lagi sekedar bertemu untuk ngobrol santai, namun berkembang menjadi ajang membuat sesuatu yang memiliki nilai positif, seperti pengadaan bakti sosial, arisan, bahkan bisnis bersama.
Seperti yang dilakukan oleh Dedy Kurnianto, pegawai di salah satu perusahaan ritel di Jakarta ini sengaja menyempatkan waktu khusus agar bisa menghadiri acara reuni SMP-nya.
Alumnus SMPN 1 Delanggu ini mengaku bersyukur masih bisa datang di acara reuni sekolahnya. Alumnus satu angkatannya tahun ini mengadakan reuni sekaligus kegiatan bakti sosial.
"Reuni tahun ini tak hanya ketemu dan makan-makan saja. Tapi ada kegiatan bakti sosial. Ya kita pengin ada sesuatu yang positif, salah satunya berbagi ke sesama melalui bakti sosial," ujar Dedy ditemui Tribun Jogja belum lama ini.
Lain halnya dengan reuni yang dihadiri dara bernama lengkap Dila Maghrifani ini.
Menurut Dila reuni bermakna lebih jauh dari sekedar temu kangen. Melalui reuni ia bersama teman-temannya semasa SMA bisa sekaligus melakukan kegiatan kemanusiaan.
Salah satu ide yang digagas menarik dan jarang dilakukan saat reuni adalah mencatat semua golongan darah peserta reuni.
Tujuannya adalah bila suatu saat ada salah satu dari anggota reuni membutuhkan darah, setidaknya bisa dengan mudah menghubungi pemilik golongan darah sejenis.
"Tahun lalu, di reuni teman SMA, kami mendata golongan darah seluruh teman-teman untuk mengantisipasi jika ada salah satu dari teman kita membutuhkan darah kita sudah sedia. Nilai positifnya kita bisa cepat tanggap untuk mendapatkan calon-calon pendonor," terang Dila yang saat ini menempuh studi Master di Sheffield Hallam University, UK.
Bagi Dila, menghadiri acara reuni itu bisa memberikan energi positif, bisa saling membantu teman yang membutuhkan.
Efek Positif
Senada diungkapkan Dila, Margaretha Kiki Namura Situmorang atau akrab disapa Kiki ini, ia setuju bila reuni diikuti kegiatan yang memberi efek positif.
Dara yang berprofesi sebagai HRD sebuah hotel di Yogyakarta ini menyayangkan bila seseorang tak menyadari atau secara sengaja hadir di acara reuni hanya untuk eksis semata atau malah pamer kesuksesan.
"Kalau ngga ada reuni, kita ngga bisa ketemu temen lama secara barengan. Positifnya biar nggak lost contact, soalnya kan sudah ngga intens ketemu. Walaupun ada yang niat pamer pas reuni, kita ambil positifnya aja. Ikut reuni malah bisa sharing tempat kuliah atau kerja mereka sekarang. Bisa nambah link juga di dunia kerja," ungkap dara yang setiap tahun mudik ke kota Semarang ini.
Pun diungkapkan Adelia Eka Nirwana. Dara yang menjadi abdi negara dengan menjadi seorang Polwan ini. Ia sepakat bila reuni setidaknya memiliki nilai lebih daripada sekedar bertemu.
Adel sapaan akrabnya, mengaku selalu berusaha hadir bila mendapat undangan reuni.
"Aku paling sering datang reuni smp, kalau sma sudah jarang, karena kebetulan jadwalnya pas bentrok. Datang ke reuni itu paling tidak kita bisa bertemu teman lama, kita bisa saling meminta bantuan ke teman bila kita mengalami kesulitan, itu positifnya," ungkap Adel. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/reuni_2607_20150726_114336.jpg)