300 Lembar Uang Palsu Beredar di DIY Tiap Bulan
Bank sentral tersebut berharap publik lebih cermat mengenali keaslian uang.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Bank Indonesia wilayah DIY meminta masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu dalam proses transaksi apapun. Meski belum menemukan indikasi peningkatan peredaran uang palsu saat bulan puasa ini, bank sentral tersebut berharap publik lebih cermat mengenali keaslian uang.
Asisten Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY, Hilman Tisnawan mengatakan, jumlah temuan peredaran uang palsu di lapangan selalu bersifat fluktuatif. Jumlahnya pun naik turun antar bulan. Namun secara rata-rata, disebutkanya jumlah uang yang tercatat BI mencapai 200-300 lembar per bulan. Kebanyakan merupakan pecahan 100.000 dan 50.000.
"Data kami menunjukkan peredarannya masih biasa di bulan puasa ini. Karena sifatnya memang fluktuatif," kata Hilman, Jumat (26/6/2015).
Total uang palsu yang beredar di DIY selama periode Januari-Juni 2015 ini disebutkannya mencapai 1439 lembar. Sekitar 70% berupa pecahan 100 ribu. Meski begitu, karena bukan termasuk alat pembayaran yang sah, Hilman enggan menyebut berapa nilai total nominal uang palsu yang dilaporkan tersebut.
Hilman mengatakan, kebanyakan uang palsu tersebut ditemukan di daerah perbatasan. Semisal daerah Wonosari, Gunungkidul. Ini berdasarkan lokasi bank-bank yang melaporkan temuan uang palsu tersebut yang memang berada di perbatasan antara DIY dan provisi lain.
Karena, bank di DIY sekarang rata-rata juga mencakup area wilayah Jawa Tengah Selatan. Umumnya, uang palsu itu ditemukan dari kalangan pedagang kecil berupa uang pecahan.
"Kami terus mengimbau masyarakat untuk waspada dan lebih teliti terhadap keaslian uang yang diterima. Yang sederhana, tentu dengan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang). Kami juga terus menggelar sosialisasi setiap kali mengadakan operasi pasar," tutup Hilman. (*)