Pasutri Asal Salaman Juga Jadi Korban Longsoran Tebing Pantai Sadranan
Akibat kepergian pasutri ini meninggalkan seorang bayi yang berusia enam bulan bernama Deya Mirta Kirana Setiyati.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sepasang suami istri, Deni Vinci Setiawan (24) dan Tanti Asmawati (22), menjadi korban longsoran tebing batu karang di Pantai Sadranan, Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Mirisnya, akibat kepergian pasutri ini meninggalkan seorang bayi yang berusia enam bulan bernama Deya Mirta Kirana Setiyati.
Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Wiwik Suryani (45) yang berada di Dusun Kalangan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Kamis (18/6/2015) sore. Ratusan pelayat silih berganti memberikan ucapan duka cita kepada Wiwik, yang tak lain adalah ibu korban Deni Vinci Setiawan.
Wiwik menceritakan, tidak ada firasat apapun saat Deni dan Tanti berangkat ke pantai Sadranan. pergi ke Pantai bersama keluarga besarnya, Ayu Ariana Putri (8), Titisatiti warga Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Dwi Repto Adisaputro warga Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Vita Oktaviani (20) dan Sani (24).
“Mereka mengendarai mobil rental karena mobil milik keluarga sedang rusak. Saat berangkat juga tidak ada firasat apa-apa. Hanya, Deni memang ceria dan belum sempat berpamitan dengan putrinya,” kata Wiwik dengan mata berkaca-kaca.
Wiwik sendiri mengaku kaget begitu mendapatkan kabar jika Deni dan istrinya keruntuhan batu berukuran besar. Mereka sempat dicari oleh tim SAR dan relawan di wilayah tersebut dan ditemukan meninggal dunia.
“Kalau yang saya dapat, mereka saat itu sedang berteduh di bawah batu. Tiba-tiba kejugrukan (kelongsoran) batu,” jelasnya dengan nada sedih.
Bayi Selamat
Namun di balik kesedihannya, masih ada satu harapan, yakni Deya Mirta Kirana Setiyati. Cucunya yang berusia enam bulan itu sempat akan diajak Deni untuk bertamasya ke pantai. Namun, karena hatinya mengganjal, dia tidak memperbolehkan putranya itu membawa cucunya dengan alasan, anaknya masih kecil kalau dibawa pergi jauh.
“Apalagi mau dibawa ke pantai yang panas dan banyak angin, saya sangat tidak setuju,” kenang Wiwik.
Meski sudah ditinggal ayah dan ibunya, Wiwik berniat akan membesarkan Deya. Dia akan merawat putri anaknya itu dengan setulus hati, sama seperti dia membesarkan Deni. Apalagi, Deya memang sudah tidak lagi meminum Air Susu Ibu (ASI).
“Saya akan rawat cucu saya ini. Dia bagian dari hidup saya. Saya senang kalau melihat cucu saya, karena menginjak usia 6 bulan sedang ceria-cerianya,” katanya dengan mata sembab. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tebing-sadranan2_20150617_161857.jpg)