Harga Bunga Tabur Tembus Rp 100 Ribu
Seiring diselenggarakannya budaya nyadran atau bersih makam yang digelar masyarakat, harga bunga tabur di sejumlah pasar tradisional Sleman melonjak
Penulis: ang | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan reporter Tribun Jogja, Angga Purnama
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Seiring diselenggarakannya budaya nyadran atau bersih makam yang digelar masyarakat, harga bunga tabur di sejumlah pasar tradisional Sleman melonjak drastis.
Hal ini lantaran meningkatnya permintaan masyarakat akan bunga tabur.
Hardiman (82) seorang penjual bunga tabur di Pasar Sambilegi, Maguwoharjo, Depok mengatakan saat ini harga per kilogram bunga tabur mencapai Rp 100 ribu.
Harga tersebut melonjak drastis dari harga sebelumnya yang hanya Rp 50 ribu per kilogramnya.
“Puncak nyadran selalu naik harganya, harga kulakannya saja sudah mahal. Jadi mau tidak mau harga jualnya juga dinaikkan karena banyak yang cari,” ungkapnya, Senin (8/6/2015).
Menurutnya peningkatan harga bunga tabur itu terjadi sejak pekan lalu atau memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa.
Pada masa tersebut, banyak masyarakat yang mulai menggelar nyadran atau sadranan sehingga kebutuhan bunga tabur meningkat.
“Tapi kebanyakan membeli paket kecil pepakan yang berisi bunga mawar, kantil, kenanga, melati, dan telasih,” papar warga Dusun Kepuh, Kalitirto, Berbah itu.
Hal ini lantaran harga pepakan relatif lebih murah yakni Rp 15.000 dengan isi yang komplit. Terlebih jika bunga tersebut untuk ditabur di makam keluarga dan tidak terlalu membutuhkan banyak bunga.
“Berbeda jika untuk keluarga besar dan banyak kerabat yang akan mengikuti budaya nyadran, biasanya belinya kiloan. Setelah itu baru dikompliti dengan bunga lainnya,” ujarnya. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/bunga-tabur_0806_20150608_210024.jpg)