Ironis! Punya Sumber Air, Warga Merapi Harus Beli Air

Bahkan aksi penambangan sudah melebihi batas normal.

Penulis: ang | Editor: Hendy Kurniawan
TRIBUN JOGJA/SANTO ARI
Ratusan warga Purwobinangun Pakem Sleman, mendesak alat berat penambangan pasir segera meninggalkan lokasi tambang, Kamis (26/3/2015). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ancaman krisis air yang dihadapi warga lereng Merapi dirasa sangat bertolak belakang dengan letak Desa Purwobinangun yang menjadi penyanggah kebutuhan air bersih hingga wilayah Kota Yogyakarta. Bahkan beberapa warga mulai membeli air untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

“Sangat ironis ketika warga lereng Merapi yang kaya sumber air harus membeli air bersih,” ujar Sulistya Pambudi, warga Dusun Glonggong, Purwobinangun, Pakem, Rabu (6/5/2015).

Warga Dusun Pulowatu, Purwobinangun, Yuliyanto mengatakan penambangan dengan alat berat menimbulkan permasalahan baru bagi warga. Bahkan aksi penambangan sudah melebihi batas normal.

“Kedalam galian hingga 50 meter, lebih dalam dari sumur milik warga. Dengan demikian, air akan semakin turun ke bawah dan tidak mengalir sampai sumber-sumber air,” katanya.

Tidak sampai di situ, polemik penambangan pasir dengan alat berat di Purwobinangun menimbulkan aksi demonstrasi warga. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan puncak kekesalan yang dirasakan oleh warga.

“Hak kami sebagai warga terganggu. Lingkungan kami semakin rusak, bahkan air pun kami sulit mendapatkannya,” paparnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved