Seni Rupa Buku: Praktik, Wacana, Pengetahuan
Desain sampul buku telah menjadi medan simbolik yang menyampaikan pesan tentang “perlawanan” sosial, politik dan budaya di masa Orde Baru
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagaimana hubungan antara seni rupa dan buku? Apa yang disebut sebagai “seni rupa buku”? Bagaimana seniman atau perancang buku membangun citra buku melalui sampul, tipografi, tata letak, teknik cetak sampai material alternatif yang dipilih untuk sebuah benda yang bernama “buku”?
Beragam wacana tersebut menjadi topik diskusi hangat pada Selasa pekan lalu, (31/3) di Langgeng Art Foundation (LAF),Jl. Suryodiningratan nomor 37, Yogyakarta. Pada diskusi bertajuk Seni Rupa Buku: Praktik, Wacana, Pengetahuan oleh FX Widyatmoko ini membingkai tren baru di dalam dunia perancangan buku sejak 1990-an.
Desain sampul buku telah menjadi medan simbolik yang menyampaikan pesan tentang “perlawanan” sosial, politik dan budaya di masa Orde Baru. Dalam hal ini, “seni rupa buku” bahkan menjadi semacam gerakan budaya.
Dari perkembangan itu muncul seniman-seniman cover (buku), perupa buku. Kesadaran baru mengenai desain buku pun berkembang. Seni rupa buku bahkan tidak cuma urusan penerbit–perancang/seniman-isi buku, tetapi juga meliputi partisipasi khayalak yang dapat memperkaya “seni rupa buku”.
Pada saat yang sama ada kecenderungan yang tak kalah kuatnya untuk melanggengkan suatu kuasa melalui penerbitan buku-buku tertentu.
Cara yang digunakan dalam mendiskusikan seni rupa buku ini adalah melalui pengalaman langsung di bidang perbukuan, baik melalui kajian maupun di ranah praktik sebagai perancang buku. Pembicara hari itu adalah FX Widyatmoko yang dikenal dengan nama Koskow ini merupakan lulusan pendidikan desain di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pria kelahiran Semarang, 10 Juli 1975 ini menjadi pengajar di Program Studi Desain Komunikasi Visual, FSR ISI, Yogyakarta sejak 2005 lalu. Bukunya yang telah terbit, antara lain “Merupa Buku” (LKiS, 2009), “Teman Merawat Percakapan” (Tan Kinira Books, 2012).
Sepanjang tahun ini LAF akan mengundang para pengajar muda dari Institut Seni Indonesia (ISI) berkenaan dengan topik-topik yang mereka geluti (desain grafis, desain interior, seni lukis, seni grafis, seni patung dan seni kria). Seri ceramah/diskusi dua bulanan ini telah dimulai sejak tahun lalu, dan akan berlanjut di sepanjang tahun ini, mulai Maret 2015.
Seri ceramah dan diskusi ini dimaksudkan untuk merangsang pemikiran di seputar seni dan estetika. Langgeng Art Foundation (LAF) mengundang sejumlah penceramah berkenaan dengan topik-topik itu.
Ceramah dan diskusi bisa berkenaan dengan pemikiran seorang tokoh ataupun tema, isu, dan tren tertentu. Ke depannya acara ini bisa memberikan pengayaan wacana dan perspektif bagi para seniman, mahasiswa maupun peminat seni pada umumnya. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/buku-diskusi_1204_20150412_152319.jpg)