Desainer Yogya Eksplor Kebaya
Lia Mustafa Ketua APPMI DIY menyatakan kebaya telah menjadi busana khas Indonesia.
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Hendy Kurniawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagi masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta mungkin tidak asing dengan jenis kain lurik. Tetapi selama ini kain lurik tidaklah dianggap spesial, bahkan mungkin dianggap kurang menarik.
Di tangan seorang designer asal Yogyakarta, Ridha Zahra, kain lurik disulap menjadi produk fashion yang menarik. Dikombinasikan dengan bahan lain, seperti cifon, silk, velvet, tile, kain lurik dibentuk menjadi beragam kebaya yang menarik.
Dengan motif gelombang, garis-garis, polkadot, bunga-bunga, permainan komposisi warna cerah, serta terdapat sentuhan aplikasi bordir sehingga menghasilkan desain yang lincah, elegat, indah dengan sentuhan etnik
Beragam kebaya ditampilkan perempuan yang memiliki butiq bernama Griya Rasu'an tersebut, diantaranya kebaya pengantin, kebaya variasi, dress coktail dan casual. Karya Ridha ditampilkan dalam gelaran Fashion Lunchoen yang diselenggrakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) DIY, Sabtu (21/3/2015).
Acara fashion show yang bertempat di Promenade Cafe, Hotel New Saphir Yogyakarta tersebut dikemas dengan santai dalam suasana makan siang. Tema Fashion Lunceon yang baru pertama kali diadakan oelh APPMI ini mengambil "Tradition Revolution" yaitu perpaduan antara kain tradisional dan juga modern.
Selain Rida, dalam acara tersebut akan ditampilkan busana rancangan dari anggota APPMI DIY yaitu Alma Riva (Omah Moda), Isyanto (Iis Design). Karena bertemakan "Tradition Revolution", karya para desainer tersebut fokus mengeksplorasi kekeyaan fashion Nusantara, dan untuk kali ini fokus terhadap kebaya.
Lia Mustafa Ketua APPMI DIY menyatakan kebaya telah menjadi busana khas Indonesia. Seiring perkembangan kebayapun banyak mengalami perkembangan baik dari bentuk maupun bahan yang digunakan.
"Melalui ajang ini ketiga desainer tersebut mencoba mengeksplore busana-busana yang memadukan tradisi kebaya dengan beragam kain etnik indonesia lainya, seperti tenun dan songket dan juga gaya modern sesuai dengan karakter masing-masing desainer," imbuhnya.
Ia menjelaskan, saat ini kebaya tidak sekadar menjadi busana yang dikenakan dalam even formal saja, melainkan juga telah menjadi busana casual yang bisa digunakan pada setiap kegiatan, tanpa harus meninggalkan nilai budaya dan sejarah di dalamnya.
"Akhir-akhir ini semakin banyak anak muda yang menyukai kebaya dan budaya. Maka dengan perkembangan fashion yang semakin inovatif dengan mengkolaborasikan unsur-unsur etnik budaya dalam fashion, menjadikan kebaya lebih menarik," ungkap Alma Riva.
Dia menambahkan, dalam pergelaran busana kali ini, ia menampilkan dua kebaya pengantin dan delapan kebaya chick, dengan judul Recognize Kebaya.
Acara yang digelar berkat kerjasama antara APPMI DIY, Hotel New Saphir Yogyakarta , Dan Dinas Perindustrian Perdaganagan UMKM dan Koperasi DIY tersebut direncanakan rutin dilaksanakan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/desainer-pegelaran-busana.jpg)