Penjual Awul-Awul Keluarkan Petisi #savepakaianimporbekas

Acara tersebut diisi oleh bazaar pakaian bekas import dan penampilan band.

Penjual Awul-Awul Keluarkan Petisi #savepakaianimporbekas
TRIBUN JOGJA/BRAMASTO ADHY
Suasana Old Fest #1 yang berlangsung di JNM, Sabtu (14/3/2015). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah penjual pakaian bekas import menyelanggarakan acara Old Fest #1 di Jogja National Museum pada 14 dan 15 Maret 2015. Acara tersebut diisi oleh bazaar pakaian bekas import dan penampilan band.

Berbeda dari bazar pakaian bekas pada umumnya, Old Fest sejatinya adalah bentuk protes masyarakat terhadap larangan pemerintah terhadap penjualan pakaian impor bekas. "Melalui acara ini kami mengundang semua pihak, tidak hanya mereka yang berjulan pakaian bekas untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan tersebut," ujar Reonald Rozaq Azizca selaku koordinator acara, Sabtu (14/3/2015).

Pria yang memiliki bisnis pakaian bekas import, khususnya jaket kulit tersebut menyatakan alasan yang dikemukakan pemerintah bahwa larangan tersebut dikarenakan adanya kuman yang berbahaya bagi kesehatan adalah sesuatu hal yang mengada-ada.

Lebih lanjut dia mengatakan, selama dirinya menggeluti usaha tersebut tidak pernah muncul kompalain dari pelangganya mengenai penyakit yang ditimbulkan dari pakaian bekas. Reonald mengatakan sebagian besar para pedagang memiliki standar sterilisasi pakaian, dan melakukan edukasi kepada para pembeli mengenai proses sterilisasi pakaian sebelum digunakan.

"Jika ada upaya dari pemerintah untuk membenahi regulasi masuknya pakain bekas agar tidak terjadi penyelendapan dan memungut pajak sesuai aturan, hal tersebut kami rasa lebih baik. Bukannya pemerintah mematikan pasar yang selama ini telah terbentuk," tambahnya.

Penjualan pakaian bekas saat ini bukan hanya kepentingan antara pembeli dan penjual. Reonald mengatakan kegiatan jual beli pakaian bekas yang terjadi di pasar induk telah memberikan penghidupan bagi banyak orang. Mulai dari kuli panggul, hingga pegawai yang menyetrika pakaian bekas.

Berkaiatan dengan isu bakteri, menurutnya lebih bijaksana jika seharusnya melakukan pengawasan terhadap proses sterilisasi pakain import bekas yang masuk. "Pemerintah bisa membuat semacam koperasi untuk jasa sterilisasi pakian impor bekas di pasar-pasar induk, dan mengawasinya. Ya semacam laundry gitulah," kata Reonald.

Semenjak diberlakukannya aturan tersebut, pedagang pakaian import bekas semakin sulit mendapatkan barang dagangan. Meskipun demikian omzet penjualan tidak terlalu banyak, khususnya bagi mereka yang berjualan secara online. Tetapi Reonal mengakui, bahwa kepercayaan masyarakat terhadap kesehatan barang yang dia jual mengalami penurunan.

Dalam Old Fest #1 terdapat delapan both penjual pakaian bekas dan sekitar 30 band pengisi acara. Dalam acara tersebut juga ada petisi #savepakaianimporbekas yang bisa ditandantangani siapa saja yang datang dalam acara tersebut.

"Acra ini telah kami bicarakan dengan teman-teman di derah lain. Kemungkinan acara seperti ini akan berlangsung di beberapa daerah, tidak hanya di Yogyakarta. Karena isu ini memang isu nasional yang mengangkut hajat hidup orang banyak," pungkas Reonald. (*)

Tags
Awul-awul
Penulis: mim
Editor: hdy
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved