Kata Sosialita Tentang Apartemen di Yogyakarta
Sebaliknya di Yogyakarta banyak termodifikasi sebagai hunian investasi
Penulis: rap | Editor: Hendy Kurniawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Maraknya pembangunan apartemen di Yogyakarta tentu menawarkan perubahan sosial baru. Disadari atau tidak, perubahan tersebut telah menciptakan nilai, norma, dan status sosial baru. Yang menarik jika di kota besar seperti Jakarta, sebagaian besar penghuninya adalah mereka yang sudah mapan bekerja, dan sosialita yang ingin menghindar dari gangguan sosial.
Sebaliknya di Yogyakarta banyak termodifikasi sebagai hunian investasi, keluarga migran, termasuk migran pelajar, dan mahasiswa yang berasal dari kota besar.
Artinya, konsep hunian apartemen tersebut secara tidak langsung telah tersosialisasi dan menjadi pilihan gaya cosmopolis generasi muda. Yang bisa dipastikan dari perubahan di atas, adalah meningkatnya masalah sosial yang berkaitan dengan efek private dan privilege dari apartemen tersebut.
Vera adalah seorang fashion stylist dan juga pelaku bisnis, sebelumnya ia pernah tinggal di sebuah apartemen di kawasan Pondok Indah, Jakarta. Kini perempuan yang menjalani bisnis properti, perhiasan, dan tas branded ini menetap di Yogyakarta.
Menurut Vera maraknya pembangunan apartemen di Yogyakarta itu menandakan kota ini sudah semakin padat penduduknya, dan makin banyak pendatang dan didukung denagn sangat tingginya harga tanah di Yogyakarta.
Perempuan bernama lengkap Vera Damayanti Albeto Siregar ini mengatakan bahwa pengalamannya selama tinggal di apartemen di Jakarta ia merasa aman dan segala fasilitas terpenuhi, seperti tempat olah raga, tempat belanja, dan sebagainya. “Terutama keamanan terjamin dan privasi saya terjaga karena apartemen yang saya tempati untuk kalangan menengah ke atas,” ucapnya.
Namun perempuan kelahiran Semarang, 7 November 1973 ini juga mengakui kekurangan tinggal di apartemen adalah antara penghuni satu dengan yang lain tidak saling mengenal, “tapi hal itu bisa dimaklumi karena penghuni apartemen yang saya tempati kebanyakan adalah orang yang sangat sibuk,” tutur ibu yang kini fokus mengurus keluarga.
Menurut Vera, di Yogyakarta itu rawan gempa, karenanya masih kurang cocok untuk tinggal di apartemen. Perempuan yang hobi berolahraga ini berpendapat bahwa tinggal di apartemen ini menyenangkan karena bisa mengenal orang dari berbagai latar belakang.
“Kebanyakan yang tinggal di apartemen Pondok Indah Jakarta adalah orang yang sangat sibuk, karena kebanyakan dari mereka adalah bisnis, dan selebritis,” tukasnya.
Tempat hunian yang ideal menurut Vera, bagi orang yang sibuk dan butuh privasi, seperti di kota besar Jakarta, dan Surabaya, tinggal di apartemen sangat cocok. Sedangkan di Yogya masih kurang cocok, alasannya selain rawan gempa di Yogya masih banyak tanah kosong. Sedangkan jika untuk berkeluarga, ia menyarankan agar tinggal di rumah yang lingkungannya ramah, saling menghormati dan juga menjaga privasi.
Vera mengakui bahwa tinggal di apartemen memiliki nilai, norma, dan status sosial yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di kampung dan perumahan. Contohnya adalah tidak perlu rapat RT atau RW.
“Karena di apartemen tidak memiliki ketua RT dan RW, tetapi sesama penghuni harus saling menghormati, terutama menghargai privasi satu sama lain,” ujarnya. (*)