Wuihhh! Batu dari Aceh Dibanderol Rp250 Juta
Bertandang di Griya Budaya Mekar, Rabu (28/1/2015), sejumlah pemandangan unik tersaji bagi setiap pengunjung yang datang
Penulis: ang | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bertandang di Griya Budaya Mekar, Rabu (28/1/2015), sejumlah pemandangan unik tersaji bagi setiap pengunjung yang datang. Berbagai macam batu dengan warna-warni indah dan motif yang bermacam-macam bak menyambut penggemarnya.
Saat ini, di tempat tersebut tengah berlangsung Stone Cultere Festival 2015. Berbagai jenis batu dipamerkan di tempat yang beralamat di Jalan Kaliurang KM 7,5 itu. Mulai dari batu yang lazim digunakan sebagai hiasan cincin atau akik, hingga batu giok.
Melongok lebih dalam, sejumlah batu alam juga dipamerkan. Bedanya batu-batu alam dengan ukuran bola sepak itu ditata di atas pot yang biasanya digunakan untuk memajang tanaman bonsai.
Sekilas batu-batu yang dipajang di bagian dalam Griya Budaya Mekar seperti batu alam yang banyak ditemui di aliran sungai. Berwarna abu-abu kehitaman, sebagian lainnya berwarna cokelat seperti mengandung belerang, dengan bentuk yang beraneka ragam.
Saat diamati, batu-batu di atas pot itu memiliki bentuk khas yang bernilai seni meski tanpa sentuhan manusia lewat pahatan ataupun ukiran. Meski hanya sebongkah batu, namun jangan kaget jika batu-batu itu memiliki nilai jual yang tinggi hingga jutaan rupiah.
“Batu-batu yang memiliki bentuk artistik ini biasa disebut suiseki. Yaitu batu-batu alam yang punya nilai seni meski tanpa campur tangan manusia,” ungkap Lilik Setiono, ketua panitia Stone Cultere Festival 2015.
Menurutnya, batu suiseki sangat berbeda jauh dengan batu cincin. Meskipun sama-sama batu namun keduanya memiliki proses kejadian yang sangat kontras baik dari asal muasal, bahan baku maupun penggunaan batu-batu yang umumnya sebagai pelengkap perhiasan.
“Batu Suiseki dan batu cincin samasama digunakan untuk hiasan dan sama-sama karya seni tinggi yang indah dan menarik,” katanya.
Namun keberadaan suiseki belum cukup populer di Indonesia. Hal ini lantaran penggemar batuan di negeri ini masih berkutat pada batu yang biasa dijadikan perhiasan dan bukan pajangan. Suiseki sendiri diadopsi dari Jepang setelah bonsai populer.
“Untuk itu, melalui festival ini kami bermaksud mengenalkan suiseki agar lebih populer. Apalagi, potensi batuan di Indonesia sangat besar untuk dimasukkan dalam kategori suiseki,” ujar Lilik.
Selain pameran, dalam festival ini juga digelar berbagai kegiatan yang berhubungan dengan batu. Mulai dari foto model dengan hiasan batu, saresehan bidang batu dilihat dari sisi kewirausahaan, workshop chemistry batu yg membahas pembuatannya dan pemasangan, serta lelang batu alam.
“Lelang akan kami gelar Sabtu (31/1/2015) malam. Yang dilelang merupakan batu alam spesial antara lain Natural Nephrite Jade, yang merupakan batu suiseki dari batu giok asal Aceh. Batu ini dibanderol awal dengan harga Rp250 juta. Nanti akan kami tampilkan saat lelang,” jelasnya.
Ia berharap melalui festival ini, penggemar batu terutama yang ada di Yogyakarta kian eksis. Apalagi, sejauh ini potensi batu alam di wilayah DIY belum dieksplorasi.
“Kebanyakan batuan dari luar daerah, seperti Jawa Barat dan Wonogiri. Padahal di Yogyakarta ada Gunungkidul dan aliran sungai berhulu Merapi yang punya batuan alam yang indah jika dikembangkan,” tukasnya. (tribunjogja.com)